Selasa, 04 NOVEMBER 2025 • 18:54 WIB

Sejarah Kerajaan Jawa: Menelisik Nama Besar dan Perannya

Author

Sejarah Kerajaan Jawa: Menelisik Nama Besar dan Perannya

Sejarah Jawa menyimpan beragam nama besar yang berperan dalam perkembangan budaya dan politik, seperti Hamengku Buwono, Paku Alam, Paku Buwono, dan Mangkunegara.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia

Setelah runtuhnya Kesultanan Mataram, keempat nama ini menjadi simbol keberlangsungan tradisi kerajaan yang ada di Yogyakarta dan Solo.

Latar Belakang Sejarah Kesultanan Mataram

Kesultanan Mataram Islam, yang merupakan sebuah kerajaan besar di Jawa, mengalami masa kemunduran akibat berbagai konflik internal dan campur tangan kolonial.

Raden Mas Sayidin, yang dikenal sebagai Amangkurat I atau Sri Susuhunan Amangkurat Agung, merupakan raja kelima dan terakhir dari kerajaan ini.

Di bawah pemerintahan Amangkurat I, Mataram menghadapi banyak tantangan, termasuk pemberontakan yang dipimpin oleh Trunajaya pada tahun 1677, yang berakhir dengan keruntuhan istana Plered.

Setelah keruntuhan tersebut, Mataram terpecah menjadi beberapa kerajaan kecil, yang masing-masing memiliki kekuasaan dan simbol kebangsawanan yang berbeda.

Hamengku Buwono: Simbol Kepemimpinan di Yogyakarta

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan pada tahun 1755 akibat Perjanjian Giyanti, yang membagi wilayah Mataram menjadi dua.

Pangeran Mangkubumi diangkat menjadi Sultan Hamengku Buwono I dan memulai pemerintahan di Yogyakarta.

Nama 'Yogyakarta' berasal dari istilah kuno 'Yodyakarta', yang mengindikasikan harapan akan kedamaian dan kemakmuran.

Baca juga: Adrian Wibowo: Pemain Indonesia-Amerika Pertama di Major League Soccer

Gelar Hamengku Buwono diwariskan kepada para sultan berikutnya, sebagai simbol legitimasi politik dan panggung budaya yang berkelanjutan di kawasan tersebut.

Paku Alam dan Peran Politik di Yogyakarta

Kadipaten Pakualaman dibentuk pada tahun 1813 di masa pemerintah kolonial Inggris, setelah terjadi konflik antara Sultan Hamengku Buwono II dan pemerintahan Inggris.

Pangeran Notokusumo, saudara sultan yang berkolaborasi dengan Inggris, diangkat sebagai penguasa merdeka dengan gelar Paku Alam I.

Gelar Paku Alam merujuk pada 'penyangga dunia', menandakan peran penting penguasa dalam menjaga keseimbangan dan struktur politik di Yogyakarta.

Kedudukan ini menjadikan Pakualaman bagian integral dari sejarah dan budaya Mataram.

Paku Buwono dan Mangkunegara: Warisan di Solo

Kasunanan Surakarta merupakan hasil pemindahan ibu kota Mataram setelah kerusuhan pada tahun 1742.

Raden Mas Prabasuyasa yang kemudian bergelar Paku Buwono III menjadi raja di Surakarta setelah adanya Perjanjian Giyanti.

Gelar Paku Buwono melambangkan tanggung jawab raja sebagai pemelihara bumi.

Mangkunegaran dibentuk sebagai kadipaten mandiri pasca-perjanjian Salatiga pada tahun 1757, dengan Raden Mas Said sebagai penguasanya.

Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi WFH untuk ASN, Sarankan Gunakan Transportasi Umum

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU