Selasa, 04 NOVEMBER 2025 • 18:37 WIB

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di SD Negeri 150 Sungai Tenang, Palembang

Author

Kasus Kekerasan Terhadap Anak di SD Negeri 150 Sungai Tenang, Palembang

Kasus dugaan kekerasan terhadap seorang bocah perempuan berinisial F dari SD Negeri 150 Sungai Tenang, Gandus, Palembang, menarik perhatian masyarakat setelah ia pulang dengan kondisi mata merah dan lebam. Kejadian ini menambah daftar panjang insiden kekerasan di lingkungan sekolah yang seharusnya aman bagi anak-anak.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang

Ibu F, Bi Erna, telah melaporkan kejadian ini ke polisi setelah mencoba mencari kejelasan di sekolah, namun mendapatkan respon yang mengecewakan. Saat ini, masyarakat menantikan tindakan nyata dari pihak berwenang untuk menangani kasus ini.

Kejadian Memilukan di Sekolah

Pada akhir Oktober 2025, Bi Erna, ibu dari F, terkejut saat menjemput anaknya dari sekolah dan melihat kondisi wajah F yang bengkak dan lebam. Dia mencoba mendapatkan penjelasan dari guru, tetapi hanya mendapat jawaban yang tidak memuaskan.

Para guru terkesan menyalahkan Bi Erna dan tidak tahu pasti mengenai kejadian tersebut, menyebut bahwa F jarang bermain ponsel yang dianggap sebagai penyebab kebengkakan. Konfirmasi yang tidak jelas ini semakin menambah kekecewaan Bi Erna.

Kekecewaan itu meningkat ketika seorang guru mengancamnya saat ia mempertimbangkan untuk melaporkan kasus ini ke pihak berwenang. 'Jangan asal tuduh, nanti kamu bisa dilaporin balik,' ujar sang guru dengan nada mengancam.

Baca juga: Kasus Oknum Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online, Jalur Pidana Terancam

Upaya Medis dan Laporan ke Polisi

Karena merasa tidak puas dengan tindakan yang diambil sekolah, Bi Erna membawa F ke Rumah Sakit Bunda Palembang. Pemeriksaan medis mengungkapkan bahwa pembuluh darah di sekitar mata F pecah akibat pukulan atau benturan dari benda tumpul.

Meskipun F sudah mendapatkan perawatan, ia masih mengeluhkan rasa sakit setiap malam. Ketika ditanya mengenai siapa yang melukainya, F tampak ketakutan dan enggan berbicara tentang kejadian tersebut.

Kasus ini akhirnya dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Palembang, dan peristiwa ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Berita ini mengundang kecaman dari berbagai kalangan.

Tanggapan Publik dan Data Kekerasan Anak

Kasus F mendapatkan perhatian dari publik, termasuk Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, yang telah menerima laporan dari masyarakat mengenai insiden tersebut. Warga berharap agar penegak hukum serius mengusut tuntas dugaan kekerasan yang dialami F.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak terjadi cukup sering di lingkungan pendidikan, baik dari sesama siswa maupun oknum guru. Keadaan ini mengkhawatirkan, terutama dalam konteks perlindungan anak.

Faktor penyebab kekerasan ini antara lain kurangnya pengawasan, minimnya fasilitas seperti CCTV, dan budaya menutupi insiden demi menjaga nama baik sekolah. Hal ini menjadi alarm bagi pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan untuk memperkuat protokol perlindungan anak di sekolah.

Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU