Ignasius Jonan dan Prabowo Subianto mengadakan pertemuan di Istana Kepresidenan Jakarta yang berlangsung selama dua jam. Pertemuan ini tidak membahas polemik terkait Kereta Cepat Jakarta-Bandung, melainkan fokus pada program-program pemerintah dan peran BUMN dalam perekonomian nasional.
Baca juga: Adrian Wibowo: Pemain Indonesia-Amerika Pertama di Major League Soccer
Jonan, yang menjabat sebagai Direktur Utama KAI di masa lalu, menegaskan bahwa diskusi tersebut diprakarsai oleh Sekretaris Kabinet. Ia menjelaskan bahwa tujuannya adalah untuk berbagi pemikiran terkait berbagai program kerakyatan yang dijalankan oleh Prabowo.
Pertemuan yang Tak Membahas Kereta Cepat
Jonan mengungkapkan bahwa diskusi dengan Prabowo dimulai pada pukul 15.34 WIB dan berakhir pada pukul 18.20 WIB. Meskipun proyek kereta cepat menjadi topik hangat, Jonan menegaskan, "Enggak, enggak (bahas kereta cepat). Enggak, saya nggak diminta masukan kok soal itu."
Tujuan utama Jonan dalam pertemuan ini adalah untuk membahas program-program yang dijalankan oleh Prabowo, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sekolah Rakyat. Ia menilai diskusi berjalan baik dan memberikan beberapa masukan terkait program kerakyatan tersebut.
Peran dan Kebijakan Prabowo Terkait BUMN
Jonan juga menyoroti diplomasi luar negeri serta kontribusi Prabowo dalam pengembangan BUMN. Dia mencatat bahwa Prabowo menunjukkan perhatian yang baik terhadap isu-isu yang dibahas dalam pertemuan tersebut.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Bombastis Menjelang Penutupan Bursa
"Puji Tuhan beliau berkenan untuk mendengarkan dan diskusi dan menerima lah beberapa masukan," ujar Jonan mengenai respons Prabowo terhadap diskusi.
Bagaimanapun, diskusi tetap lebih berfokus pada aspek positif tanpa membahas kereta cepat secara mendalam. Ketika ditanya mengenai pandangan Jonan tentang proyek tersebut, ia memilih untuk tidak memberikan komentar.
Kondisi Keuangan Proyek Kereta Cepat
Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang dikenal dengan nama Whoosh, kini menghadapi tantangan besar terkait utang. KAI sebagai induk usaha harus menanggung kerugian yang cukup signifikan berdasarkan porsi sahamnya di PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia.
Laporan keuangan terbaru menunjukkan bahwa PT PSBI, anak usaha KAI, mengalami kerugian mencapai Rp 4,195 triliun pada tahun 2024. Bahkan, hingga semester I-2025, kerugian bertambah lagi sebesar Rp 1,625 triliun.
Kerugian ini menjadi perhatian mengingat kontroversi yang mengelilingi proyek ini. Jonan mengakui bahwa kebijakan Prabowo terkait proyek kereta cepat adalah bagian dari tanggung jawabnya sebagai pemimpin.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: