Osteoarthritis atau radang sendi menjadi salah satu masalah kesehatan yang umum terjadi pada lansia di Indonesia. Dengan meningkatnya usia, risiko terkena kondisi ini semakin besar, dan pemahaman yang tepat sangat diperlukan.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Kondisi ini ditandai dengan nyeri sendi, kaku, dan pembengkakan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Mengelola gejala osteoarthritis sangat penting untuk menjaga kualitas hidup lansia tetap baik.
Apa Itu Osteoarthritis?
Osteoarthritis adalah bentuk arthritis yang paling umum dan biasanya terjadi pada orang di atas 50 tahun. Penyakit ini muncul akibat kerusakan kartilago sendi, yang berfungsi sebagai pelindung ujung tulang dan membuat pergerakan lebih lancar.
Saat kartilago menipis, tulang akan saling bergesekan, mengakibatkan rasa sakit yang mengganggu. Gejala awalnya umumnya berupa nyeri saat bergerak dan kaku di sendi, terutama setelah beristirahat.
Osteoarthritis dapat memengaruhi hampir semua sendi, dengan lokasi yang paling sering adalah lutut, pinggul, punggung bawah, dan jari. Risiko penyakit ini juga meningkat bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa.
Baca juga: Keamanan dan Kelezatan Lari Malam: Panduan untuk Olahragawan
Gejala Osteoarthritis
Gejala osteoarthritis bervariasi tergantung pada tingkat keparahan penyakit. Mulai dari nyeri sendi yang muncul saat beraktivitas, hingga bengkak dan kaku setelah beristirahat.
Dalam beberapa kasus, suara ‘berderak’ terdeteksi saat sendi bergerak. Suara ini menandakan adanya gesekan antara tulang yang berhubungan langsung tanpa pelindung kartilago.
Gejala yang muncul sebaiknya tidak diabaikan. Jika tidak ditangani, osteoarthritis dapat menyebabkan penurunan fungsi sendi yang lebih parah dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Pengelolaan Osteoarthritis
Pengelolaan osteoarthritis meliputi beberapa pendekatan, seperti perubahan gaya hidup dan terapi fisik. Melakukan olahraga ringan dapat membantu memperkuat otot-otot sekitar sendi serta meningkatkan fleksibilitas.
Konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan terapi yang tepat sangat dianjurkan. Penggunaan obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) sering dipertimbangkan.
Diet juga memiliki peran penting, dengan mengonsumsi makanan anti-inflamasi yang kaya omega-3 dan serat untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri. Menjaga berat badan ideal juga membantu mengurangi tekanan pada sendi.
Baca juga: Menggali Peran Finfluencer dalam Meningkatkan Literasi Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: