Senin, 20 OKTOBER 2025 • 14:55 WIB

Serangan Udara Terbaru Israel di Rafah: Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Memicu Ketegangan

Author

Serangan Udara Terbaru Israel di Rafah: Pelanggaran Gencatan Senjata Terus Memicu Ketegangan

Militer Israel meluncurkan serangan udara di Rafah, Gaza, pada Minggu (19/10), meskipun gencatan senjata yang diprakarsai oleh Amerika Serikat masih berlaku.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan

Serangan ini dilaporkan bersamaan dengan tuduhan pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Hamas, yang semakin memperburuk ketegangan antara kedua belah pihak.

Detail Serangan dan Penyebabnya

Menurut laporan dari AFP, militer Israel melakukan serangan di Rafah, yang terletak di bagian selatan Gaza, berdasarkan informasi dari Kan. Belum ada keterangan resmi dari pihak militer Israel maupun Hamas terkait serangan ini.

Israel menegaskan bahwa serangan dilakukan akibat pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh Hamas, dengan tuduhan adanya serangan terhadap tentara Israel di Rafah. 'Beberapa teroris' dilaporkan melepaskan tembakan ke arah tentara, meskipun tidak ada yang terluka dalam insiden tersebut.

Baca juga: Kota-Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian

Pernyataan Resmi dan Dinamika Konflik

Di hari yang sama, militer Israel juga mengumumkan serangan terhadap kelompok 'teroris' lain di dekat pasukan mereka di Khan Younis. Israel menyatakan akan terus melaksanakan operasi untuk menghilangkan ancaman yang dianggap mendesak.

Ketegangan antara pemerintah Israel dan Hamas semakin meningkat, dengan kedua belah pihak saling menuduh melakukan pelanggaran gencatan senjata. Pemerintah Israel juga mengumumkan bahwa perlintasan perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir akan tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Isu Sandera dan Negosiasi Terkait Penyerahan Jenazah

Perselisihan antara Israel dan Hamas juga menyentuh masalah pemulangan jenazah sandera, di mana Israel menuntut Hamas untuk menyerahkan 28 jenazah sandera yang masih tersisa. Sementara itu, Hamas baru berhasil memulangkan 20 sandera hidup dan 12 sandera yang telah meninggal.

Hamas mengklaim bahwa proses pemulangan jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan membutuhkan upaya dan peralatan khusus, yang semakin memperumit situasi di lapangan dan menambah ketegangan antara kedua pihak.

Baca juga: Tips Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU