Proses identifikasi jenazah korban tragedi Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, mengalami berbagai tantangan akibat kondisi jenazah yang tidak utuh dan minim tanda khusus.
Baca juga: Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Batal karena Kerusuhan dalam Negeri
Kabid DVI Pusdokkes Polri, Kombes Wahyu Hidajati, menyampaikan bahwa pihaknya sepenuhnya bergantung pada pemeriksaan DNA untuk melakukan identifikasi.
Kesulitan Proses Identifikasi
Menurut Wahyu, proses pencocokan DNA antara bagian tubuh yang terpisah dan tubuh utama memerlukan ketelitian tinggi.
"Kesulitannya karena bagian tubuh tidak lengkap dan tidak ada ciri-ciri khusus," tuturnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman sebelumnya menunjukkan, seringkali ada bagian tubuh yang baru bisa cocok dua hari setelah tubuh utamanya teridentifikasi.
"Kondisi serupa juga kami temui saat ini," jelas Wahyu.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Seharusnya Dapat Perlakuan Istimewa di DPR
Tragedi Ambruknya Bangunan
Tragedi ambruknya Pondok Pesantren Al Khoziny terjadi pada Senin, 29 September, saat para santri sedang melaksanakan salat Asar.
Gedung yang ambruk adalah musala asrama santri putra.
Penyebab ambruknya bangunan ini diduga karena kesalahan konstruksi.
Kejadian ini memicu perhatian terhadap keamanan dan kelayakan bangunan pondok pesantren di seluruh Indonesia.
Kerja Sama Tim Gabungan
Proses identifikasi kini sedang dilakukan secara intensif oleh tim gabungan yang terdiri dari RS Bhayangkara Polda Jatim, Pusdokkes Polri, PDFI, serta berbagai instansi terkait.
Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan ketelitian ilmiah dan memberikan empati kepada keluarga korban.
Saat ini, dari total korban, 104 di antaranya berhasil diselamatkan, sementara identifikasi korban terus berlangsung hingga seluruhnya terdata.
Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: