Polusi udara dan asap rokok adalah ancaman serius yang memengaruhi tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan. Dalam seminar yang diadakan pada Kamis (9/10/2025), dokter anak menguraikan risiko-risiko ini secara mendetail.
Baca juga: Korea Selatan Siap Hadapi Tantangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026
Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menekankan pentingnya kesadaran orang tua mengenai dampak negatif dari polusi dan asap rokok terhadap kesehatan anak.
Dampak Polusi Udara Sejak Dalam Kandungan
Polusi udara tidak hanya menimbulkan gangguan pernapasan, tetapi juga dapat memengaruhi pertumbuhan janin. Dr. Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Resp(K) dari IDAI, menjelaskan bahwa polutan seperti partikulat halus (PM2.5) dapat masuk ke dalam aliran darah ibu hamil.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi selama kehamilan dapat menyebabkan berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, serta gangguan perkembangan otak. "Paparan polusi udara juga dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dan autisme pada anak," ungkap dr. Cynthia.
Fakta ini menunjukkan bahwa polusi udara berdampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak-anak di Indonesia, menjadikannya masalah mendesak yang perlu ditangani.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus
Bahaya Asap Rokok di Sekitar Anak
Asap rokok juga berkontribusi besar terhadap gangguan kesehatan anak. Dr. Cynthia menjelaskan bahwa anak dapat terpapar asap rokok melalui tiga cara: perokok aktif, perokok pasif, dan residu asap.
"Paparan dari ibu perokok selama kehamilan terbukti dapat menurunkan panjang badan bayi dan meningkatkan risiko stunting," tegas dr. Cynthia.
Anak-anak yang tinggal dengan perokok lebih rentan terhadap infeksi saluran napas berulang dan mengalami gangguan kognitif. "Rokok elektronik juga tidak menjadi solusi aman, karena tetap mengandung nikotin yang berisiko," lanjutnya.
Risiko Gangguan Kognitif dan Kesehatan Mental
Paparan jangka panjang terhadap polusi dan asap rokok telah dikaitkan dengan beragam risiko gangguan kognitif. Dr. Cynthia menekankan bahwa partikel halus PM2.5 dapat menembus sawar darah otak dan menyebabkan peradangan.
"Anak-anak yang tinggal di lingkungan berpolusi tinggi memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dan tingkat kehadiran sekolah yang buruk," paparnya.
Dampak ini dapat mempengaruhi prestasi akademik dan kemampuan sosial anak, menciptakan tantangan lebih besar bagi generasi masa depan.
Baca juga: Aliansi BEM SI Siapkan Aksi Unjuk Rasa Besar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: