Empat santri tewas dalam tragedi ambruknya gedung Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 29 September lalu. Keluarga korban meminta pihak berwenang untuk mengusut tuntas dan menuntut pertanggungjawaban hukum atas kejadian tersebut.
Baca juga: Prabowo Subianto Tetap Berangkat ke China Setelah Batal karena Kerusuhan dalam Negeri
Kronologi Kejadian dan Dampak Bencana
Tragedi ambruknya gedung terjadi pada sore hari, menewaskan empat santri di lokasi. Fauzi, paman dari salah satu korban, mengatakan anaknya selamat karena berada di area aman saat kejadian berlangsung.
Fauzi mengungkapkan, "Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses." Pernyataan ini mencerminkan kepedihan dan kekhawatiran keluarga terhadap keselamatan bangunan di pesantren.
Berdasarkan konsultasi dengan seorang ahli, ia mengungkapkan bahwa kondisi konstruksi gedung tidak memenuhi standar yang diperlukan. Dia menambahkan, "Dilihat dari konstruksinya memang tidak standar untuk pembangunan," merujuk pada kekhawatiran atas keselamatan santri.
Permintaan Pertanggungjawaban Hukum
Fauzi juga meminta agar pengurus ponpes dan kiai yang terlibat dalam pembangunan gedung tersebut untuk diproses secara hukum. Ia menegaskan, "Tidak ada yang kebal," menekankan bahwa hukum harus diberlakukan tanpa pandang bulu.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni Berlanjut
Ia menyebutkan dugaan adanya eksploitasi anak, di mana santri terlibat dalam proses pembangunan gedung. "Nanti bukan tidak mungkin ada eksploitasi anak di sana," ungkapnya, menunjukkan pentingnya perlindungan bagi anak-anak di pesantren.
Harapannya, kasus ini menjadi pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. "Hukum harus ditegakkan, supaya ke depan adik-adik kita bisa belajar dengan aman," ujarnya.
Tanggapan Keluarga Korban Lainnya
Muhammad Ma'ruf, ayah dari salah satu korban yang berusia 13 tahun, menerima kejadian tersebut sebagai takdir. "Kami nitipkan di pondok ini dengan tujuan agar anak kami kenal dengan Tuhannya," ucapnya, mengekspresikan sikap legowo atas musibah.
Sementara itu, KH Abdus Salam Mujib, pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, menganggap tragedi ini sebagai takdir Tuhan. "Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar," ujarnya, memohon kepada semua pihak untuk bersikap sabar.
Dia berharap pengorbanan para santri yang tewas dapat diganti dengan pahala dari Allah SWT. "Diberi pahala yang sangat-sangat, apa ya, nggak bisa mengutarakan dan mudah-mudahan dibalas kebaikan oleh Allah SWT yang lebih dari musibah ini," harap Mujib.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Provokasi Massa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: