Selasa, 30 SEPTEMBER 2025 • 22:05 WIB

Pembubaran Pemerintahan Madagaskar: Suara Generasi Muda Menggema

Author

Pembubaran Pemerintahan Madagaskar: Suara Generasi Muda Menggema

Presiden Madagaskar, Andry Rajoelina, mengambil langkah drastis dengan membubarkan pemerintahannya setelah gelombang protes besar-besaran oleh generasi muda, Gen Z. Keputusan ini diambil setelah harapan dan keluhan mereka tak terjawab menyusul pemadaman layanan dasar dan meningkatnya kemiskinan.

Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas

Pengumuman tersebut mencerminkan frustrasi yang meluas di kalangan masyarakat. Protes ini dipicu oleh isu-isu mendasar yang telah lama menjadi masalah di negara tersebut, mengindikasikan bahwa suara generasi muda kini tak dapat diabaikan.

Pemicu Pembubaran Pemerintahan

Gelombang protes dimulai dengan pemadaman listrik dan air yang berkepanjangan, memicu kemarahan di kalangan anak muda Madagaskar. Ribuan demonstran berkumpul di berbagai wilayah, menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap situasi yang tidak kunjung membaik.

Dalam pernyataannya, Rajoelina mengakui masalah ini, mengatakan, "Kami mengakui dan meminta maaf jika pemerintah belum melaksanakan tugas yang diberikan dengan baik." Pernyataan tersebut disiarkan melalui Televiziona Malagasy (TVM), mengukuhkan kesadaran pemerintah akan ketidakpuasan publik.

Menurut data dari World Bank, sekitar 75 persen dari 30 juta penduduk Madagaskar hidup di bawah garis kemiskinan. Hal ini diperparah oleh faktanya bahwa hanya 36 persen penduduk yang memiliki akses listrik yang andal.

Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan

Kekacauan yang Mengikuti Protes

Protes ini berujung pada kerusuhan, dengan laporan sementara dari PBB menyebutkan sedikitnya 22 orang tewas. Kerusuhan ini melibatkan aksi penjarahan di supermarket, toko kecil, dan bank.

Aksi massa bahkan menyerang rumah-rumah politisi, menunjukkan derajat frustrasi yang telah meluas. Oleh karena itu, pihak berwenang menerapkan jam malam dan mengerahkan pasukan keamanan bersenjata peluru karet untuk meredakan situasi.

Rajoelina mengambil langkah tegas dengan memecat Menteri Energi pada tanggal 26 September, sebagai reaksi terhadap gelombang protes yang semakin membesar. Ia juga mengajak generasi muda untuk berdialog dan berkomitmen untuk mendukung bisnis yang terdampak kekacauan.

Simbol Unjuk Rasa Gen Z

Dalam protes ini, para demonstran Gen Z menyematkan bendera anime Jepang, One Piece, sebagai simbol ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah. Bendera ini telah menjadi ikon persatuan di berbagai negara yang mengalami aksi protes serupa.

Tidak hanya di Madagaskar, protes dengan simbol ini juga terpantau di negara-negara lain, seperti Indonesia, Filipina, Prancis, Nepal, dan Peru. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintahan adalah masalah global.

Rajoelina menyadari kemarahan masyarakat akibat masalah pasokan listrik dan air, serta dampaknya pada kehidupan sehari-hari. Ia mengungkapkan, "Saya mendengar panggilan ini, saya merasakan penderitaan ini," menggarisbawahi kompleksitas situasi yang dihadapi.

Baca juga: Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU