Selasa, 23 SEPTEMBER 2025 • 15:13 WIB

Penjelasan Kementerian Luar Negeri RI atas Terputusnya Mikrofon Presiden Prabowo di PBB

Author

Penjelasan Kementerian Luar Negeri RI atas Terputusnya Mikrofon Presiden Prabowo di PBB

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengungkapkan penyebab terputusnya mikrofon saat pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Baca juga: Menggali Konsep Self Love: Pentingnya Mencintai Diri Sendiri dalam Kehidupan Sehari-hari

Keputusan tersebut diambil karena adanya batasan waktu yang ketat pada setiap pidato yang berlangsung di arena PBB.

Penjelasan Resmi Kemlu

Pada Selasa, 23 September 2025, Direktur Informasi dan Media Kemlu, Hartyo Harkomoyo, menjelaskan bahwa setiap negara peserta memiliki waktu maksimal lima menit untuk menyampaikan pendapat.

Mikrofon otomatis mati jika waktu tersebut terlampaui. Hal ini terjadi saat Prabowo menyampaikan pernyataan tentang kesediaan Indonesia untuk menyediakan pasukan perdamaian.

Hartyo menambahkan bahwa meskipun mikrofon sudah mati, pidato Prabowo masih dapat didengar dengan jelas oleh para delegasi di Aula Sidang Majelis Umum.

Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat

Aturan Prosedur di Sidang PBB

Setiap pertemuan PBB dikendalikan oleh aturan tertentu, termasuk pembatasan waktu pidato bagi setiap delegasi. Aturan ini bertujuan untuk menjaga ketertiban dan efisiensi dalam sidang.

Hartyo menegaskan bahwa suara Presiden Prabowo tetap terdengar jelas, meskipun pesan pidatonya tidak disiarkan secara langsung kepada publik, sebagai bentuk kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.

Tak hanya Prabowo, mikrofon juga mati saat Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berpidato. Ini menunjukkan bahwa peraturan yang sama diterapkan untuk semua pemimpin negara.

Persidangan Terkait Isu Palestina

KTT di PBB tersebut membahas isu Palestina dan solusi dua negara, di mana 33 pemimpin dari berbagai negara serta organisasi internasional memberikan pandangan mereka.

Pertemuan ini dipimpin oleh Prancis dan Arab Saudi, menciptakan platform untuk memberi arahan dan solusi dalam mengatasi konflik yang sudah berlangsung lama.

Menurut laporan kantor berita Anadolu, Presiden Erdogan juga mengalami hal serupa, yang mengakibatkan pesan pidatonya tidak dapat disampaikan sepenuhnya.

Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual yang Mengubah Pengalaman Menonton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU