Rabu, 06 AGUSTUS 2025 • 12:32 WIB

Ketegangan Rusia dan AS: Sanksi dan Perundingan di Tengah Perang Ukraina

Author

urbanvibe.id – Presiden Rusia Vladimir Putin diperkirakan akan mengabaikan tenggat sanksi yang dikenakan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait perang di Ukraina. Menurut sumber dekat Kremlin, Putin berkomitmen untuk melanjutkan konflik dan menguasai wilayah Ukraina yang diklaim sebagai bagian dari Rusia.

Dalam menghadapi ancaman sanksi baru berupa tarif 100% untuk negara-negara pengimpor minyak Rusia, Putin menunjukkan skeptisisme terhadap efektivitas sanksi tersebut, terutama dengan pengalaman terbatas dari sanksi-sanksi sebelumnya.

Sikap Putin Terhadap Sanksi

Dari laporan tiga sumber Reuters, diketahui bahwa Putin meyakini bahwa sanksi tambahan tidak akan mengubah situasi, mengingat kegagalan dampak yang ditimbulkan oleh sanksi yang sudah berjalan selama lebih dari tiga tahun.

“Putin masih berharap bisa membangun kembali hubungan dengan AS dan Barat. Tapi prioritas utamanya tetap memenangkan perang,” ujar salah satu sumber.

Putin tampaknya berfokus untuk menguasai wilayah Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson secara penuh sebelum mempertimbangkan perundingan damai. James Rodgers, penulis buku ‘The Return of Russia’, mengungkapkan bahwa sukses dalam menguasai keempat wilayah tersebut akan memberikan Putin klaim kemenangan strategis.

Rundingan Antara Rusia dan Ukraina

Sejak bulan Mei, Rusia dan Ukraina telah mengadakan tiga kali perundingan, meskipun fokus pembicaraan lebih kepada isu pertukaran kemanusiaan daripada aspek yang substansial.

Putin menggambarkan proses perundingan tersebut sebagai “positif”, meskipun syarat yang diajukan oleh Moskow dianggap terlalu berat oleh pihak Ukraina.

Salah satu syarat yang diajukan termasuk penarikan penuh dari wilayah yang kini dikuasai Rusia serta penerimaan status netral dari Kyiv. Sumber dari Kremlin menunjukkan bahwa Putin khawatir atas kemungkinan memburuknya hubungan dengan AS, yang dapat mempengaruhi keputusan selanjutnya.

Respons Gedung Putih Terhadap Ultimatum Trump

Gedung Putih merespons ultimatum Trump terhadap Putin sebagai upaya untuk menghentikan kekerasan yang terjadi di Ukraina.

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menekankan, “Presiden Trump ingin menghentikan pembunuhan, itulah sebabnya ia menjual senjata kepada sekutu NATO dan mengancam Putin dengan tarif serta sanksi jika tidak ada gencatan senjata.”

Kunjungan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, yang direncanakan ke Rusia dalam waktu dekat menunjukkan kompleksitas situasi yang dihadapi kedua negara, terutama di tengah pernyataan Rusia yang keluar dari moratorium penggunaan rudal nuklir jarak pendek dan menengah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
BERITA TERBARU