Mojtaba Khamenei Resmi Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Memicu Kontroversi di Arena Internasional
Mojtaba Khamenei, putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei, resmi ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 9 Maret 2026. Penunjukan ini dianggap sebagai provokasi terhadap Amerika Serikat dan Israel di tengah ketegangan yang meningkat.
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
Langkah ini diambil setelah serangan yang menewaskan ayahnya pada 28 Februari 2026, menyoroti tekad Iran untuk mempertahankan kekuasaan dalam situasi sulit.
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru datang usai serangan oleh AS dan Israel yang menargetkan ayahnya. Serangan itu berakhir tragis bagi AS, karena mereka justru memperkuat posisi putra Khamenei yang dikenal sebagai sosok garis keras.
Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, menyatakan bahwa 'merupakan penghinaan besar bagi Amerika Serikat untuk melakukan operasi sebesar ini, akhirnya menewaskan seorang pria berusia 86 tahun, hanya untuk kemudian digantikan oleh putranya yang juga berhaluan keras.'
Reaksi Iran terhadap situasi ini menunjukkan ketahanan dan keinginan mereka untuk mempertahankan struktur kekuasaan meskipun bawah tekanan internasional yang luar biasa.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial
Serangan AS menggunakan dua kapal induk sebagai bagian dari komitmen militer mereka di Iran. Konsep ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas biaya, terutama mengingat bahwa mereka justru digunakan untuk mencegat drone yang relatif murah.
Donald Trump bahkan menyatakan keyakinan bahwa Mojtaba Khamenei tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan dari AS. Namun, penunjukan ini justru menunjukkan sebaliknya, yakni ketangguhan Iran dalam menghadapi intervensi luar.
Situasi ini menantang strategi pertahanan AS, mengingat penunjukan Mojtaba mengindikasikan bahwa Iran tidak gentar menghadapi ancaman asing.
Kepemimpinan Mojtaba Khamenei diprediksi akan memberikan kekuasaan lebih besar kepada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Hal ini akan membawa kontrol yang lebih ketat terhadap masyarakat, di tengah meningkatnya ketidakpuasan akibat krisis ekonomi.
Sejumlah pejabat mengungkapkan bahwa 'Mojtaba tidak punya pilihan selain menunjukkan tangan besi,' mengingat tekanan yang terus meningkat dari berbagai sisi baik domestik maupun internasional.
Situasi politik dalam negeri diprediksi akan semakin rumit, membutuhkan konsolidasi kekuasaan yang cepat untuk menghadapi tantangan yang ada.
Baca juga: Keamanan dan Kelezatan Lari Malam: Panduan untuk Olahragawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: