Strategi Netanyahu: Serangan ke Iran Sebelum Pemilu untuk Meningkatkan Citra
Menjelang pemilihan umum Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diduga melakukan serangan terhadap Iran untuk memperbaiki citranya. Langkah ini tampak sebagai strategi untuk menunda pengesahan anggaran yang dapat mengancam stabilitas pemerintahannya.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Langkah Menuju Transparansi
Analisis terbaru menunjukkan bahwa Netanyahu tengah berupaya memanfaatkan konflik tersebut sebagai alat untuk mendongkrak popularitas menjelang pemilu yang harus dilaksanakan paling lambat pada 27 Oktober 2026.
Perang yang berkecamuk menjadikan Netanyahu berupaya memperbaiki posisinya di mata publik dan parlemen. Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, popularitasnya menurun tajam dan menciptakan momen paling mematikan dalam sejarah Israel.
Sebagai perdana menteri terlama, Netanyahu menghadapi kritik yang tajam terkait dukungan yang terus merosot di parlemen. Selain itu, ia juga harus menghadapi persidangan terkait kasus korupsi yang menambah tekanan terhadapnya.
Dalam situasi yang penuh tantangan ini, tindakan menyerang Iran tampak menjadi strategi untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu internal yang dihadapinya.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual yang Mengubah Pengalaman Menonton
Serangan yang dilakukan sebelum tenggat 30 Maret 2026 dianggap sebagai langkah strategis untuk menunda pengesahan anggaran penting. Analis Emmanuel Navon menilai bahwa Netanyahu tidak akan menunggu hingga Oktober untuk pemilu, mengingat situasi krisis yang terus berkembang.
Netanyahu berusaha mendapatkan dukungan dari sekutunya dengan menunjukkan keberhasilan militer dalam serangan ini. Tindakan tersebut dinilai sebagai bagian dari rencana besar untuk meningkatkan kepercayaan serta arah politiknya.
Namun, meskipun ada optimisme atas hasil serangan, para pengamat mengingatkan bahwa hasil jangka panjangnya tergantung pada banyak faktor, termasuk respons publik terhadap pertempuran yang berkepanjangan.
Dukungan publik terhadap militer Israel menunjukkan peningkatan, tetapi popularitas Netanyahu sendiri tetap dipertanyakan. Michael Horowitz menekankan bahwa kesuksesan militer dapat memperkuat citra Netanyahu, meskipun risiko tetap ada jika konflik berlangsung lama.
Banyak analis sepakat bahwa meskipun kemenangan di medan perang dapat menguntungkan Netanyahu, dukungan untuk pemerintahannya tidak bisa dianggap otomatis. Jurnalis Ouriel Deskal mencatat bahwa waktu yang dipilih untuk konflik mungkin terkait dengan kepentingan politik domestiknya.
Sebagai laporan CNN menunjukkan, popularitas tentara meningkat lebih signifikan ketimbang dari pemimpin politik, menunjukkan ketidakpastian dalam struktur politik yang ada di Israel saat ini.
Baca juga: Kota-Kota Terbaik di Indonesia untuk Liburan Sendirian
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: