Mengenal Super Flu: Tantangan Baru bagi Sistem Imun
Super flu, terutama yang disebabkan virus H3N2, telah menunjukkan kemampuannya untuk menghindari antibodi yang terbentuk akibat infeksi sebelumnya.
Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Hal ini berkontribusi pada tingkat keparahan gejala yang dialami oleh pasien, bahkan mereka yang pernah terinfeksi flu sebelumnya.
Ketika seseorang terinfeksi flu, tubuhnya memproduksi antibodi sebagai langkah pertahanan alami. Antibodi ini berfungsi dalam mengenali virus dan membantu melawan infeksi saat terjadi paparan ulang.
Pada influenza biasa, mekanisme ini biasanya cukup untuk meringankan gejala. Namun, super flu dengan virus H3N2 menunjukkan bahwa perlindungan imun tersebut tidak selalu efektif.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing
Virus H3N2 diketahui sangat adaptif, memungkinkan dirinya untuk bersembunyi dari antibodi yang terbentuk dari infeksi influenza sebelumnya. Ini menyebabkan tubuh merespons seperti menghadapi virus baru, memperlambat respons imun pada awal infeksi.
Dokter spesialis paru, dr. Brigitta Devi Anindita Hapsari, Sp.P(K), menjelaskan, "Sistem imun harus berjuang lebih keras saat menghadapi super flu, sehingga meningkatkan potensi munculnya gejala yang lebih berat."
Pasien dengan penyakit penyerta, atau komorbid, memiliki risiko lebih besar untuk mengalami dampak berat akibat super flu. Ini terkait dengan kondisi sistem imun mereka yang lebih lemah.
Meskipun vaksin influenza tidak selalu efektif dalam mencegah infeksi super flu, vaksin ini dapat melatih sistem imun untuk mengenali dan merespons infeksi dengan lebih cepat. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko gejala berat dan kematian.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: