Ketegangan Baru di Dewan Keamanan: AS dan Iran Saling Tuduh
Pertikaian antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di forum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya terkait protes di Iran. Tuduhan saling menjatuhkan menjadi sorotan utama dalam pertemuan tersebut.
Baca juga: Kasus Oknum Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online, Jalur Pidana Terancam
Duta Besar Amerika untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa unjuk rasa di Iran menunjukkan kekuatan rakyat dan menolak klaim Teheran tentang konspirasi asing. Sementara itu, Iran menanggapi dengan tuduhan adanya distorsi dari pihak AS.
Dewan Keamanan PBB kembali menjadi arena bagi AS dan Iran untuk mengemukakan pandangan masing-masing mengenai unjuk rasa yang terjadi di negara Syiah tersebut. Duta Besar AS, Mike Waltz, mengklaim bahwa pernyataan Iran tentang keterlibatan asing dalam unjuk rasa tersebut tidak memiliki dasar.
"Semua orang di dunia perlu mengetahui bahwa rezim tersebut lebih lemah dari sebelumnya, dan oleh karena itu, menyebarkan kebohongan ini karena kekuatan rakyat Iran di jalanan. Mereka takut. Mereka takut pada rakyat mereka sendiri," ungkap Waltz dalam rapat pada 15 Januari 2026.
Pernyataan ini secara tersirat menunjukkan bahwa AS ingin tampil sebagai pendukung revolusi rakyat Iran. Selain itu, AS juga menyalahkan Iran atas kekerasan yang terjadi selama unjuk rasa dan menegaskan dukungannya untuk 'rakyat Iran yang berani'.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial
Iran memberikan reaksi keras terhadap pernyataan Waltz, dengan Wakil Duta Besar Iran untuk PBB, Gholamhossein Darzi, menilai tuduhan tersebut sebagai 'kebohongan'. Ia menegaskan bahwa Iran tidak mencari konfrontasi dan menolak campur tangan asing.
"Namun, setiap tindakan agresi -- secara langsung atau tidak langsung -- akan ditanggapi dengan respons yang tegas, proporsional, dan sah," tegas Darzi, sambil menggarisbawahi pentingnya pengakuan terhadap kedaulatan negara dalam perdebatan internasional.
Pernyataan ini berfungsi sebagai peringatan kepada negara asing agar tidak terlibat dalam urusan domestik Iran. Darzi juga mendesak negara-negara lain untuk memperhatikan realitas hukum internasional saat berinteraksi.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, turut mengkritik langkah AS yang memanggil rapat Dewan Keamanan. Menurutnya, langkah tersebut dimaksudkan untuk membenarkan agresi terhadap urusan internal negara yang berdaulat.
"Kami menyaksikan suatu upaya untuk 'menyelesaikan masalah Iran dengan cara favoritnya: melalui serangan yang bertujuan untuk menggulingkan rezim yang tidak diinginkan'," jelas Nebenzia, menunjukkan adanya keprihatinan di kalangan negara besar mengenai tindakan AS.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengingatkan seluruh pihak untuk menahan diri dari tindakan yang bisa memicu eskalasi lebih lanjut. Seruan tersebut menekankan pentingnya dialog dan diplomasi dalam menangani ketegangan internasional.
Baca juga: Aliansi BEM SI Siapkan Aksi Unjuk Rasa Besar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: