Tantangan Karier Bagi Generasi Z Menjelang 2026
Generasi Z mengalami kesulitan signifikan saat mencari pekerjaan di tahun 2026, terutama akibat dampak jangka panjang pandemi Covid-19.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Banyak dari mereka kehilangan pengalaman belajar dan keterampilan sosial yang sangat penting untuk memasuki dunia kerja.
Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan peluang kerja. Laporan dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan bahwa banyak generasi muda, terutama yang berusia antara 20 hingga 24 tahun, mengalami kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan pertama mereka.
Julie Leonard, Chief Impact Officer di badan amal Shaw Trust, menyatakan bahwa 'pembelajaran daring dan keterbatasan interaksi selama lockdown 2020 menciptakan kesenjangan sosial bagi Generasi Z'. Hal ini menyebabkan kehilangan pengalaman kerja dan soft skill yang diharapkan dari mereka.
Leonard juga menekankan bahwa banyak generasi muda mengabaikan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan etiket di tempat kerja, seperti 'komunikasi dan kolaborasi'. Dengan demikian, mereka menghadapi tantangan serius saat memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif.
Baca juga: Dolby Vision 2: Inovasi Teknologi Visual yang Mengubah Pengalaman Menonton
KPMG dan PwC mengungkapkan bahwa pekerja muda mereka sering kali kekurangan keterampilan penting untuk sukses. Mereja mulai menawarkan pelatihan resiliensi dan keterampilan interpersonal sejak 2025 sebagai respons terhadap masalah ini.
Leonard menyatakan, 'Banyak orang muda yang kehilangan tahun-tahun penting di bangku pendidikan tatap muka, sehingga mereka tidak siap untuk memasuki pasar kerja yang telah berubah drastis'.
Karena itu, penerapan pendekatan baru dalam pelatihan sangat penting agar generasi muda dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan pekerjaan saat ini. Perusahaan yang aktif dalam melatih keterampilan ini diharapkan mampu memberikan generasi ini keunggulan saat memasuki dunia kerja.
Leonard menyarankan generasi muda untuk kembali menggunakan pendekatan tradisional saat mencari pekerjaan. 'Buat CV, datangi langsung toko-toko, ajak bicara manajer,' ujarnya, menunjukkan pentingnya interaksi langsung dalam pencarian kerja.
Ia juga menambahkan bahwa usaha kecil dan menengah merupakan tempat ideal bagi pencari kerja untuk membangun resiliensi dan kepercayaan diri. 'Inilah jenis pekerjaan yang kami lakukan: membimbing, membangun resiliensi, dan membangun kepercayaan diri agar mereka berani melangkah,' ujarnya.
Strategi ini mendorong generasi muda untuk tidak hanya mengandalkan pengiriman CV yang mungkin ditolak oleh sistem otomatis, tetapi juga untuk secara aktif berinteraksi dalam pencarian pekerjaan.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Diperiksa KPK Terkait Dugaan Korupsi Kuota Haji 2024
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: