Gelombang Protes di Iran: Khamenei Ancam Para Pendemo
Iran saat ini tengah menghadapi demonstrasi besar-besaran yang menuntut perubahan rezim di bawah kepemimpinan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei. Aksi protes ini melibatkan banyak korban jiwa dan penolakan terhadap pemerintahan teokratis yang ada.
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
Khamenei menanggapi ini dengan menuduh para demonstran sebagai 'perusuh' yang berupaya untuk 'memuaskan' Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pidato kerasnya menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak mundur di tengah protes yang meningkat.
Aksi demonstrasi di Iran dimulai pada akhir Desember lalu dan menyebar ke berbagai kota besar, termasuk Teheran. Para demonstran menunjukkan ketidakpuasan mereka dengan membakar bangunan pemerintah dan menuntut reformasi.
Dalam pidato pertamanya sejak protes meningkat, Khamenei menuduh para demonstran sebagai 'perusuh' dan menegaskan, 'Republik Islam datang ke tampuk kekuasaan dengan darah ratusan ribu orang terhormat, dan tidak akan mundur menghadapi para penyabot.' Pidato tersebut disiarkan langsung oleh televisi pemerintah, menegaskan ketegasan pemerintah terhadap protes ini.
Menurut laporan dari HRANA, jaringan hak asasi manusia Iran, sedikitnya 62 orang telah tewas, termasuk 14 anggota keamanan selama aksi protes ini. Data ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang terjadi di lapangan.
Baca juga: Menggali Peran Finfluencer dalam Meningkatkan Literasi Keuangan
Respons internasional terhadap penanganan demonstrasi ini cukup signifikan. Pemimpin Perancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk 'pembunuhan terhadap para pengunjuk rasa.'
Donald Trump juga memberikan komentar melalui Twitter, menegaskan, 'Antusiasme untuk menggulingkan rezim itu luar biasa.' Ia mengingatkan bahwa jika pemerintah Iran menggunakan kekerasan terhadap demonstran, AS akan menganggap ini sebagai pelanggaran serius.
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran, mendesak Trump untuk bersiap melakukan intervensi. Ia mengungkapkan di media sosial, 'Tolong bersiaplah untuk melakukan intervensi demi membantu rakyat Iran,' menunjukkan pentingnya dukungan internasional dalam situasi ini.
Video yang beredar menunjukkan kerumunan besar demonstran di berbagai kota dengan teriakan 'mati bagi diktator' menggema di antara mereka. Di sisi lain, media pemerintah menyiarkan aksi tandingan yang mendukung pemerintah.
Pihak berwenang melakukan pemadaman internet untuk membatasi komunikasi di antara para demonstran, memperburuk situasi. Tindakan ini meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi kekerasan yang lebih besar.
Amnesty International dan Human Rights Watch melaporkan bahwa aparat keamanan menggunakan senjata tajam dan gas air mata terhadap para demonstran, yang banyak dari mereka berunjuk rasa dengan damai. Michael Page, Wakil Direktur HRW untuk Timur Tengah, mengkritik kebijakan ini sebagai sesuatu yang telah menjadi praktik umum di negara tersebut.
Baca juga: Kenaikan Pangkat Luar Biasa untuk Polisi yang Terluka dalam Demonstrasi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: