Strategi Siber AS: Menciptakan Kegelapan di Caracas
Pernyataan mengejutkan datang dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai rencana untuk menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, melalui serangan siber. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Trump mengungkapkan bagaimana tentara AS berhasil memadamkan listrik di Caracas, menyebabkan ibu kota Venezuela terjun ke kegelapan total.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Pemadaman ini menciptakan dampak signifikan pada akses internet dan kontrol operasional pemerintah Venezuela. Penggunaan metode serangan siber ini menandai langkah baru dalam pengakuan publik AS atas strategi tinggi dalam operasi internasional.
Presiden Trump menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan keahlian di sektor siber, AS melancarkan serangan yang membuat listrik di Caracas mati total. Alhasil, situasi tersebut memberikan efek gelap bagi seluruh kota, yang diungkapkan oleh Trump, 'Di sana gelap, lampu di Caracas semuanya mati karena keahlian yang kami miliki.'
Pengakuan ini memberikan wawasan baru tentang operasi siber AS yang sebelumnya dilakukan dengan kerahasiaan yang sangat tinggi. Dalam konteks ini, AS dikenal memiliki salah satu operasi siber yang paling maju dan berpengaruh di dunia.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan
Grup pelacak aktivitas internet, NetBlocks, mengonfirmasi bahwa pemadaman listrik ini juga mengakibatkan akses internet mati total di Caracas sejak Sabtu dini hari. Pendiri NetBlocks, Al Toker, menegaskan bahwa pemadaman ini adalah hasil dari serangan siber yang ditargetkan, yang sangat mengganggu komunikasi dan kontrol operasional bagi pemimpin Venezuela.
Venezuela sebelumnya telah mengalami berbagai serangan siber yang merugikan, seperti yang terjadi pada produksi minyak dari perusahaan migas negara, PDVSA. Oleh karena itu, situasi ini menjadi salah satu dari banyak tantangan yang dihadapi oleh pemerintah Venezuela.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela masih menunjukkan intensitas tinggi meskipun terdapat penangkapan mengejutkan terhadap Presiden Maduro. Pejabat AS menegaskan keberadaan sekitar 15.000 personel di kawasan Karibia, mengisyaratkan kemungkinan untuk intervensi militer jika situasi tak kunjung membaik.
Di tengah ketegangan ini, Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, tetap menantang dan tidak mengungkapkan arah negosiasi dengan pejabat AS yang lebih mendalam. Trump memberikan peringatan kepada Rodríguez, menyatakan, 'Jika dia tidak melakukan apa yang seharusnya, dia akan membayar mahal, mungkin lebih besar daripada Maduro.'
Baca juga: Menggali Peran Finfluencer dalam Meningkatkan Literasi Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: