Pentingnya Peran Negara dalam Mitigasi Bencana di Aceh
Anggota Komisi I DPR RI, Endipat Wijaya, menekankan pentingnya peran negara dalam mitigasi bencana di Aceh dan wilayah sekitarnya, di tengah gerakan donasi yang hanya berhasil mengumpulkan Rp 10 miliar.
Baca juga: Novak Djokovic Kembali Melaju ke Semifinal US Open 2025
Hal ini disampaikan dalam rapat kerja dengan Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, di mana ia mengingatkan akan kontribusi besar pemerintah dalam penanggulangan bencana.
Dalam rapat kerja yang digelar pada 8 Desember 2025, Endipat Wijaya menyebutkan bahwa negara telah mengucurkan bantuan triliunan rupiah untuk penanganan bencana di Aceh.
Ia menyayangkan fakta bahwa gerakan donasi, terutama dari influencer seperti Ferry Irwandi, hanya menghasilkan sumbangan sebesar Rp 10 miliar, yang dianggapnya tidak sebanding dengan bantuan pemerintah.
Endipat mengingatkan bahwa kepedulian masyarakat tidak boleh mengaburkan kenyataan bahwa negara berperan signifikan dalam upaya penanggulangan bencana.
Ia menegaskan, 'Orang per orang cuma nyumbang Rp 10 miliar, negara sudah triliunan ke Aceh.'
Politikus Partai Gerindra ini juga menggarisbawahi pentingnya komunikasi yang jelas dari Kementerian Komunikasi dan Digital mengenai upaya pemerintah dalam penanganan bencana.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Ia menegaskan bahwa beberapa pihak yang merasa paling berjasa di daerah bencana sebenarnya hanya berkunjung sesekali, tanpa kontribusi yang berarti.
Menurutnya, 'Ada orang baru datang, baru bikin satu posko, ngomong pemerintah enggak ada. Padahal pemerintah sudah bikin ratusan posko di sana.'
Endipat mengimbau setiap pihak untuk menyadari bahwa kehadiran negara merupakan bagian dari upaya yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Endipat Wijaya lahir pada 31 Mei 1984 dan merupakan lulusan Teknik Metalurgi dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 2006, serta berhasil menyelesaikan pendidikan di bidang Manajemen di Swiss German University pada 2019.
Sebelum terjun ke dunia politik, ia bekerja sebagai teknisi di Double A Group dan kemudian bergabung dengan PT Kaltim Prima Coal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: