Fenomena Delayed Gratification dalam Manajemen Keuangan di Era Digital
Di era digital saat ini, fenomena flash sale semakin marak dan menjadi tantangan bagi konsumen dalam mengelola pengeluaran mereka.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus
Salah satu teknik keuangan yang efektif untuk melawan pengaruh tersebut adalah praktik "delayed gratification" atau penundaan kepuasan.
Delayed gratification adalah kemampuan untuk menahan impuls untuk segera mendapatkan sesuatu dan berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan.
Menurut penelitian Walter Mischel pada tahun 1972, anak-anak yang dapat menunda kepuasan menunjukkan hasil yang lebih baik di kemudian hari.
Praktisnya, penerapan delayed gratification dalam keuangan pribadi melibatkan penundaan pembelian untuk merenungkan kebutuhan versus keinginan.
Dengan cara ini, individu dapat terhindar dari pengeluaran impulsif yang banyak terjadi saat flash sale.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah membuat daftar belanja berdasarkan kebutuhan prioritas.
Baca juga: Tips Menciptakan Suasana Nyaman di Kamar Kecil
Dengan cara ini, individu dapat lebih fokus pada barang-barang yang benar-benar dibutuhkan, menghindari pembelian yang tidak perlu.
Selain itu, menciptakan metode menabung dan investasi dapat efektif dalam mengaplikasikan prinsip delayed gratification.
Menerapkan batasan waktu dalam pengambilan keputusan, seperti memberi waktu 24 jam sebelum membeli barang tertentu, juga merupakan langkah bijaksana.
Penerapan delayed gratification dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kesehatan finansial individu.
Sebuah survei yang dilakukan oleh Financial Planning Association Indonesia menunjukkan bahwa orang yang mampu menahan belanja impulsif cenderung memiliki tabungan lebih besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: