Kesepian di Era Media Sosial: Mengapa Kita Merasa Terasing?
Di era digital ini, media sosial seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Meskipun terhubung dengan banyak orang, banyak yang merasa lebih kesepian dari sebelumnya.
Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat
Fenomena ini menarik perhatian banyak orang, terutama di tengah lonjakan pengguna platform sosial. Lalu, apa yang sebenarnya menyebabkan perasaan kesepian ini di tengah kemudahan interaksi virtual?
Meskipun platform media sosial menawarkan koneksi yang cepat, interaksi yang sebenarnya bisa terasa dangkal. Banyak pengguna merasa bahwa 'likes' dan komentar tidak sebanding dengan kedalaman hubungan yang mereka dambakan.
Sebuah studi dari University of Pennsylvania menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan justru dapat meningkatkan perasaan kesepian. Mereka yang lebih aktif di platform sosial cenderung merasa kurang terhubung secara emosional.
Interaksi virtual sering kali menggantikan koneksi yang lebih dalam. Sederhananya, meski banyak orang yang 'terhubung', tidak semua hubungan tersebut berarti.
Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer yang Mengejutkan
Teori psikologis menyebutkan bahwa kualitas hubungan lebih penting daripada jumlah teman di media sosial. Banyak yang memiliki ratusan atau bahkan ribuan teman daring, tetapi kesepian tetap mengintai bila hubungan tersebut tidak memuaskan secara emosional.
Peneliti menjelaskan bahwa hubungan yang bermakna biasanya lebih memberikan dukungan emosional ketimbang interaksi yang superficial. Ketika kedalaman hubungan kurang, risiko merasa terasing pun meningkat.
Ada juga kecenderungan untuk membandingkan diri dengan yang lain. Melihat kesenangan yang ditampilkan orang lain di media sosial bisa membuat individu merasa bahwa mereka tertinggal, berujung pada perasaan kesepian.
Penggunaan media sosial telah terbukti berkaitan dengan masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi. Ketika orang terlalu fokus pada penampilan mereka di dunia maya, itu akan memengaruhi bagaimana mereka mengevaluasi diri.
Banyak yang merasa tertekan untuk selalu 'on' dan terlihat bahagia di platform sosial. Sebuah survei dari Mental Health Foundation menyebutkan bahwa satu dari lima pengguna media sosial merasa tertekan dan terasing karena perbandingan sosial yang terjadi.
Dengan meningkatnya ekspektasi akan interaksi yang sempurna, banyak individu merasa sulit untuk membuka diri dan menjalin hubungan yang tulus.
Baca juga: Aliansi BEM SI Siapkan Aksi Unjuk Rasa Besar pada 2 September 2025
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: