Menuju Indonesia Maju: Tantangan dan Pilar Pertumbuhan Ekonomi
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi 8% bukanlah ukuran tunggal untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Seharusnya Dapat Perlakuan Istimewa di DPR
Ia menekankan perlunya pertumbuhan ekonomi double digit secara konsisten selama lebih dari sepuluh tahun untuk mencapai status tersebut.
Purbaya Yudhi Sadewa menyadari adanya skeptisisme dari banyak pihak terhadap kemampuan Indonesia dalam mencapai pertumbuhan ekonomi 8%.
Ia menjelaskan, "Banyak orang yang skeptis, anggapnya nggak mungkin terjadi. Kalau saya malah senang."
Meskipun angka 8% merupakan awal yang baik, Purbaya menggarisbawahi bahwa itu tidak cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju.
Pertumbuhan yang diperlukan harus berkelanjutan dan lebih tinggi, yaitu double digit dalam periode yang panjang.
Menteri Keuangan ini mengidentifikasi tiga pilar utama yang sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus
Tiga pilar tersebut mencakup pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional.
Purbaya mengatakan, "Tiga-tiganya harus ada. Satu nggak ada, itu ekonominya bisa rentan."
Pengabaian salah satu pilar dapat mengganggu kelangsungan pertumbuhan ekonomi, sehingga program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan sangat penting.
Dalam konteks prinsip ekonomi yang diadopsi oleh Presiden Prabowo Subianto, Purbaya menyebutkan bahwa Prabowo diilhami oleh ajaran Soemitronomics.
Ia berpendapat, "Saya pikir dia (Prabowo) terinspirasi oleh ajaran Soemitronomics, bapaknya sendiri. Bapaknya itu orang pinter, ekonom jagoan."
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: