Mengenal Penyakit Tersembunyi yang Sering Diabaikan di Indonesia
Penyakit seringkali hadir tanpa peringatan jelas, membuat banyak individu meremehkan gejalanya. Di Indonesia, terdapat beberapa kondisi kesehatan yang sering tidak disadari oleh masyarakat, meskipun banyak kasus terdiagnosis setiap tahunnya.
Baca juga: Kasus Oknum Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online, Jalur Pidana Terancam
Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang sangat umum terjadi di Indonesia. Gejala awalnya sering kali terlihat sepele, seperti rasa haus yang berlebihan dan buang air kecil yang frekuensinya meningkat, serta penurunan berat badan tanpa alasan jelas.
Banyak individu cenderung mengabaikan gejala ini dan menganggapnya sebagai tanda dehidrasi biasa. Namun, peningkatan kadar gula darah dalam jangka panjang dapat berisiko tinggi menyebabkan komplikasi yang serius.
Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa prevalensi diabetes terus meningkat setiap tahunnya. Pada 2021, lebih dari 10 juta orang Indonesia terdiagnosis diabetes.
Hipertensi, dikenal juga sebagai 'silent killer', banyak dialami oleh masyarakat Indonesia. Meskipun seringkali tidak menunjukkan gejala yang mencolok, keadaan ini dapat menyebabkan masalah serius seperti stroke dan penyakit jantung.
Baca juga: Kunto Aji: Artis Tak Seharusnya Dapat Perlakuan Istimewa di DPR
Gejala seperti sakit kepala atau pusing seringkali dianggap sepele, tetapi kondisi tekanan darah tinggi yang berkepanjangan dapat merusak pembuluh darah dan organ-organ vital. Barometer kesehatan menunjukkan bahwa awareness terhadap hipertensi perlu ditingkatkan.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1%.
Kanker serviks sering tidak disadari oleh wanita, meskipun gejala awal seperti nyeri panggul atau perdarahan di luar menstruasi dapat menjadi pertanda penting. Sebaiknya, wanita menyadari risiko dan melakukan pemeriksaan secara rutin.
Pemeriksaan seperti Pap smear dapat membantu dalam deteksi dini kanker serviks. Meskipun ada opsi untuk deteksi, masih banyak wanita yang enggan melakukannya karena berbagai alasan.
Data dari WHO menunjukkan bahwa Indonesia memiliki angka kematian akibat kanker serviks yang cukup tinggi, sehingga penyuluhan dan edukasi perlu ditingkatkan untuk meningkatkan kesadaran akan gejala-gejala penyakit ini.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta Tak Kondusif
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: