Wabah Gagal Ginjal: Masalah Kesehatan yang Kian Mengkhawatirkan
Dunia sedang menghadapi masalah kesehatan serius terkait penyakit ginjal kronis yang jarang diperhatikan. Kasus gagal ginjal melonjak drastis, dengan angka terbaru menunjukkan 788 juta orang dewasa terdampak pada tahun 2023.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Riset terbaru dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan bahwa kasus gagal ginjal atau CKD meningkat seiring dengan perkembangan gaya hidup modern. Dalam sebagian besar kasus, penderita berada di stadium awal yang tidak menunjukkan gejala jelas, sehingga mereka tidak menyadari kerusakan yang sedang terjadi pada ginjal.
Menurut IHME, faktor risiko utama meliputi gula darah puasa tinggi, kegemukan, dan hipertensi. Meskipun diabetes dan hipertensi adalah penyebab utama, pola makan, lingkungan, dan faktor sosial ekonomi juga berkontribusi terhadap peningkatan CKD.
Khususnya di wilayah tertentu seperti Amerika Tengah, fenomena gagal ginjal misterius atau CKD of Unknown Etiology (CKDu) semakin meningkat. Kasus ini sering dialami oleh para pekerja yang terpapar panas ekstrem dan dehidrasi, yang memicu perhatian lebih pada dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.
Krisis gagal ginjal ini semakin parah oleh ketimpangan dalam akses layanan kesehatan. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah memiliki beban CKD yang tinggi, namun akses terhadap dialisis dan transplantasi ginjal sangat terbatas.
Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat
Di sisi lain, negara maju meskipun memiliki prevalensi CKD yang lebih rendah, memiliki akses yang lebih baik untuk terapi pengganti ginjal. Ketidaksetaraan ini menyebabkan angka kematian akibat CKD di negara miskin tetap tinggi, karena banyak pasien tidak mendapatkan pengobatan yang diperlukan.
IHME juga mencatat bahwa kerusakan ginjal memiliki dampak yang lebih jauh daripada yang diperkirakan. Pada tahun 2023, disfungsi ginjal menyumbang 11,5% dari kematian akibat penyakit jantung secara global, menunjukkan keterkaitan erat antara CKD dan kematian kardiovaskular.
IHME menekankan pentingnya deteksi dini dalam memerangi CKD. Meskipun banyak negara terkaya memiliki fasilitas kesehatan yang lebih baik, skrining untuk mendeteksi risiko masih jarang dilakukan.
Peneliti berharap agar temuan ini dapat mendorong pengambil kebijakan untuk lebih serius memasukkan CKD dalam agenda kesehatan publik. Akses terhadap pengobatan yang efektif perlu diperluas untuk memperlambat kerusakan ginjal dan mencegah komplikasi jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan CKD sebagai penyakit tidak menular prioritas global, menegaskan perlunya perhatian lebih terhadap penyakit ini, sebanding dengan kanker dan diabetes.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: