Xenotransplantasi: Harapan Baru dan Tantangan di Uji Klinis
Xenotransplantasi, atau transplantasi organ antarspesies, kini menawarkan harapan baru bagi pasien yang membutuhkan donor organ, terutama ginjal.
Baca juga: Adrian Wibowo: Pemain Indonesia-Amerika Pertama di Major League Soccer
Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah penolakan hiperakut yang disebabkan oleh sistem imun tubuh manusia.
Untuk memahami mekanisme penolakan, para ilmuwan melakukan transplantasi ginjal babi yang telah direkayasa pada seorang resipien yang dinyatakan mati otak namun dengan jantung yang masih berfungsi.
Selama 61 hari, tim peneliti melakukan pemantauan intensif dengan mengumpulkan berbagai sampel, termasuk jaringan, darah, dan cairan tubuh.
Kesempatan langka ini memberikan data mendalam mengenai interaksi antara sel imun manusia dan ginjal babi, serta menunjukkan bahwa penolakan disebabkan oleh dua komponen utama: antibodi dan sel T.
Kedua komponen tersebut berperan penting dalam menandai zat asing dan menyerangnya, yang menjadi fokus penelitian lebih lanjut.
Dengan mengungkap pola reaksi imun, para peneliti berhasil membalikkan episode penolakan yang terjadi pasca transplantasi.
Baca juga: Penyelidikan Penjarahan di Rumah Ahmad Sahroni Berlanjut
Menggunakan kombinasi obat yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) AS, mereka dapat meredam aktivitas antibodi dan sel T yang berperan dalam penolakan.
Dr. Robert Montgomery, penulis utama studi, menyatakan, 'Hasil kami lebih mempersiapkan kami untuk mengantisipasi dan mengatasi reaksi imun yang berbahaya selama transplantasi organ babi pada manusia yang hidup.'
Proses ini menunjukkan tidak ada bukti kerusakan permanen atau penurunan fungsi ginjal setelah intervensi obat, yang menandakan potensi ginjal babi sebagai pengganti ginjal manusia.
Ginjal yang digunakan dalam studi ini dihasilkan oleh Revivicor, anak perusahaan United Therapeutics, dengan modifikasi genetik untuk menghindari penolakan awal.
Proses ini melibatkan teknik canggih, termasuk teknologi CRISPR-Cas9, yang mengubah gen GGTA1 penyebab karbohidrat Alpha-Gal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: