Pewarna Rambut dan Alat Pelurus: Apa yang Perlu Diketahui tentang Risiko Kanker Payudara?
Penggunaan pewarna rambut dan alat pelurus rambut berpotensi meningkatkan risiko kanker payudara, menurut ahli kesehatan.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi WFH untuk ASN, Sarankan Gunakan Transportasi Umum
Lebih dari 5.000 bahan kimia ditemukan dalam produk ini, dengan paparan tertentu yang dapat berkontribusi pada risiko kesehatan serius, khususnya bagi perempuan.
Dokter onkologi radiasi, Chirag Shah, MD, mencatat bahwa pewarna rambut mengandung lebih dari 5.000 bahan kimia, termasuk zat karsinogen yang dapat memicu kanker.
Amina aromatik dan senyawa seperti 3-amino-4-metoksianilin menjadi perhatian karena potensi mereka untuk mengganggu kadar hormon dalam tubuh.
Pewarna rambut permanen, yang mencakup sekitar 80% pasar, diketahui mengandung lebih banyak bahan berbahaya dibandingkan pewarna semi-permanen. Meningkatnya popularitas produk ini membawa kekhawatiran akan risiko jangka panjang.
Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) menyatakan bahwa penggunaan pewarna rambut untuk keperluan pribadi tidak selalu diklasifikasikan sebagai karsinogenik bagi manusia.
Namun, IARC menambahkan bahwa penata rambut yang sering terpapar pewarna rambut berisiko lebih tinggi, dikategorikan sebagai 'kemungkinan karsinogenik'.
Sebuah studi besar dari National Institutes of Health pada tahun 2019 menunjukkan perempuan yang menggunakan pewarna rambut permanen secara teratur memiliki risiko kanker payudara lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak menggunakan produk itu sama sekali.
Studi terbaru menunjukkan bahwa penggunaan catokan rambut yang mengandung formaldehida juga berkontribusi pada risiko kanker payudara.
Mereka yang menggunakan catokan dalam 12 bulan sebelum penelitian memiliki risiko 18% lebih tinggi untuk mengembangkan kanker payudara.
Frekuensi penggunaan catokan menjadi faktor penting, di mana penggunaan setiap lima hingga delapan minggu meningkatkan risiko hingga 31%. Penelitian ini menunjukkan ada hubungannya antara cara merawat rambut dan kesehatan jangka panjang.
Baca juga: Kerusuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Korban di Kampus
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: