Dugaan Pembantaian di Sudan: RSF Dalam Sorotan Internasional
Pasukan Dukungan Cepat atau Rapid Support Forces (RSF) baru-baru ini menjadi sorotan setelah laporan dugaan pembantaian terhadap sekitar 2.000 warga sipil di kota El Fasher, Darfur, Sudan bermunculan.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar
Kekerasan ini terkait erat dengan konflik berkepanjangan antara RSF dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) yang telah mengganggu stabilitas negara sejak perang sipil dimulai.
Rapid Support Forces (RSF) adalah kelompok paramiliter yang sebelumnya dikenal sebagai 'Janjaweed', dibentuk untuk mendukung rezim Presiden Omar Al Bashir.
Sejak diresmikan pada tahun 2013 dengan jumlah anggota mencapai 100.000 orang, RSF diberikan wewenang sebagai pasukan keamanan independen dan berperan aktif dalam berbagai konflik di Sudan.
Termasuk, keterlibatan mereka dalam menggulingkan pemerintahan Al Bashir pada tahun 2019 dan keinginan mereka untuk berintegrasi dengan angkatan bersenjata nasional yang memicu ketegangan.
Ketegangan ini memuncak menjadi perang sipil yang kembali pecah pada tahun 2023, mengancam stabilitas negara.
Konflik yang meletus kembali telah menyebabkan RSF merampas banyak wilayah strategis dan melakukan kekerasan berulang, yang mengakibatkan pengungsian besar-besaran.
Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dalam beberapa hari terakhir, lebih dari 26.000 orang terpaksa mengungsi, dengan banyak dari mereka melakukan perjalanan kaki menuju Tawila demi keselamatan.
Saat ini, kota El Fasher menjadi zona berbahaya dengan sekitar 177.000 warga sipil masih terjebak, sehingga situasi semakin kritis.
RSF dituding melakukan tindak kekerasan, termasuk penyiksaan dan eksekusi terhadap warga sipil, yang telah direkam dan disebarluaskan melalui media sosial.
Pemimpin RSF, Mohammed Hamdan Hemedeti Dagolo, menyatakan bahwa grupnya berkomitmen untuk memimpin Sudan dan 'menciptakan perdamaian sejati'.
Namun, tindakan mereka dalam mengepung dan menguasai wilayah strategis menunjukkan bahwa kekerasan dan peperangan masih akan berlanjut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: