Keenyamanan dan Tantangan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur
Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur muncul sebagai calon pengganti Jakarta, yang berjuang menghadapi masalah polusi dan kepadatan penduduk. Akan tetapi, IKN kini dinilai berisiko menjadi kota hantu di tengah harapan untuk meratakan pembangunan di Indonesia.
Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Para pengunjung mengagumi kemodernan IKN yang bersih, menyerupai Singapura, meski suasana sepi menciptakan perasaan aneh. Banyak yang berharap IKN dapat memenuhi visi sebagai ibu kota baru Indonesia pada masa mendatang.
Dari kunjungan ke IKN, seorang wisatawan asal Sulawesi, Clariza, mencatat, 'Rasanya seperti Singapura. Bersih, modern, seperti sesuatu yang mustahil di tengah hutan.' Meskipun mengagumi infrastruktur yang ada, Clariza juga merasakan ketidaknyamanan akibat kesunyian kawasan tersebut.
Optimisme terhadap IKN sebagai ibu kota baru Indonesia disampaikan oleh Clariza, yang berharap transformasi pembangunan dapat lebih banyak terkonsentrasi tidak hanya di Pulau Jawa. 'Bagi kami yang tinggal di wilayah timur, terasa lebih terpusat kalau ibu kota berada di sini,' ujarnya.
Meskipun berbagai fasilitas seperti Istana Garuda dan Taman Kusuma Bangsa sudah terbangun, 'Tapi juga terasa aneh dan sepi. Belum ada siapa-siapa di sini,' tambahnya, menunjukkan kekhawatiran atas masa depan kawasan tersebut.
Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta Tak Kondusif
Dalam rangka mewujudkan IKN sebagai ibu kota baru, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 79 Tahun 2025 menetapkan target konkret pembangunan dalam tiga tahun ke depan. Ini termasuk pengembangan kawasan inti pusat pemerintahan seluas 800-850 hektare dan pencapaian 20% pembangunan gedung di IKN.
Perpres tersebut juga menyebutkan bahwa pembangunan hunian yang layak dan terjangkau harus mencapai 50%. Selain itu, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sempat diusulkan untuk mengadakan kantornya di IKN, menandai komitmen pemerintah dalam percepatan pembangunan.
Sementara itu, selama libur Lebaran 2025, IKN tercatat dikunjungi 64 ribu pelancong, menandakan adanya minat yang signifikan terhadap kawasan tersebut di kalangan wisatawan domestik dan mancanegara.
Masyarakat lokal, seperti suku Balik yang tinggal di tepi Sungai Sepaku, menghadapi dampak langsung dari pembangunan IKN. Petani dan nelayan lokal, seperti Arman, mengungkapkan kekhawatiran mengenai perubahan lingkungan dan bencana banjir yang semakin parah akibat proyek tersebut.
'Air itu hanya mengalir ke IKN,' keluh Arman, menyoroti kesulitan akses air bersih yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Meskipun mereka tidak mendapatkan fasilitas yang sama dengan yang ada di IKN, mereka tetap berharap akan ada keuntungan yang bisa dirasakan dari keberadaan ibu kota baru.
'Kalau proyek ini berhenti, kami kehilangan segalanya, tetapi kalau terus berjalan tanpa melibatkan kami, kami juga kehilangan,' tegas Arman, menunjukkan dilema antara kemajuan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat lokal.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: