Penggunaan Etanol sebagai Bahan Bakar Minyak di Indonesia: Siapkah Kita?
Masyarakat Indonesia saat ini sedang mempertimbangkan penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) yang direncanakan mulai diterapkan pada tahun 2027.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Harga etanol murni diperkirakan mencapai Rp 16 ribu per liter, dan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan tentang dampaknya terhadap biaya dan ketergantungan energi nasional.
Etanol, sebagai bahan bakar alternatif, memiliki karakteristik menarik. Menurut Profesor Ronny Purwadi dari Institut Teknologi Bandung, etanol anhydrous memiliki kandungan air minimal, yakni hanya 0,5 persen.
Jika etanol dicampurkan hingga 10 persen ke dalam BBM (E10), masyarakat harus siap menghadapi biaya tambahan sekitar Rp 1.600 per liter dari harga etanol murni. Meskipun biaya ini dianggap tidak signifikan, dampaknya dapat terasa jika digunakan dalam jumlah besar.
Kalkulasi kasar menunjukkan bahwa dengan harga etanol E100 di Rp 16.000 per liter, tambahan biaya tersebut bisa menjadi faktor pertimbangan masyarakat.
Hal ini sangat penting untuk memahami bahwa transisi ini melibatkan perubahan biaya yang harus disiapkan oleh konsumen.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral merencanakan penerapan penggunaan etanol sebesar 10 persen (E10) mulai tahun 2027. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa kebijakan ini masih dalam tahap kajian.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Provokasi Massa
Bahlil juga menekankan pentingnya kesiapan pabrik etanol domestik sebelum kebijakan ini diberlakukan, untuk mengurangi ketergantungan pada impor bensin yang mencapai 27 juta ton per tahun.
Strategi ini bertujuan menciptakan kemandirian energi di Indonesia dan meningkatkan ketahanan energi Nasional. Selain itu, kebijakan ini diharapkan dapat mendukung penggunaan sumber energi terbarukan.
Adapun upaya ini perlu disertai dengan pemantauan dan fasilitas yang memadai untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat akan etanol.
Penggunaan etanol sebagai campuran BBM diharapkan tidak hanya memberikan alternatif sumber energi, tetapi juga berpotensi mengurangi emisi karbon. Ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan mencapai target energi terbarukan.
Namun, tantangan besar tetap ada, terutama terkait kesiapan industri dan infrastruktur. Masyarakat dan pelaku industri diharapkan dapat beradaptasi dengan transisi ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: