Spotify mengumumkan bahwa kecerdasan buatan kini mengambil alih proses pengembangan aplikasinya. Sejak Desember 2025, para pengembang tidak lagi menulis kode secara manual.
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
Dalam earnings call kuartal keempat, co-CEO Gustav Söderström menyatakan bahwa AI telah secara drastis mempercepat pengembangan produk di perusahaan ini.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Pengembangan Aplikasi
Spotify kini mengandalkan sistem internal bernama Honk, yang mendukung proses pengkodean yang lebih efisien. Platform ini memungkinkan insinyur melakukan deployment kode secara real-time dari berbagai lokasi dengan dukungan generative AI, khususnya Claude Code.
Gustav Söderström memberikan contoh nyata, di mana seorang engineer dapat memperbaiki bug atau menambahkan fitur baru hanya dengan menggunakan aplikasi Slack di ponselnya. Teknologi ini menawarkan fleksibilitas dan kecepatan yang signifikan dalam pengembangan.
Menurut Söderström, perubahan ini memungkinkan proses semacam ini diselesaikan bahkan sebelum para karyawan tiba di kantor. Dia melaporkan bahwa penggunaan Honk mempercepat pengembangan secara 'tremendously'.
Ia menegaskan bahwa ini hanya tahap awal dalam pemanfaatan AI oleh Spotify, dengan potensi yang masih perlu dieksplorasi lebih lanjut.
Pengumpulan Dataset Internal yang Besar
Spotify tengah membangun dataset internal yang besar dan terus berkembang. Dataset ini diharapkan memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan dibandingkan dengan lainnya.
Baca juga: Adrian Wibowo: Pemain Indonesia-Amerika Pertama di Major League Soccer
Söderström menekankan bahwa tidak banyak perusahaan yang memiliki akses ke dataset berskala serupa, yang dapat meningkatkan kemampuan AI mereka. Ini menciptakan peluang baru untuk inovasi dalam pelayanan pengguna.
Dengan mengumpulkan dan memanfaatkan data tersebut, Spotify berambisi menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik dan responsif terhadap kebutuhan pelanggan yang terus berkembang.
Perkembangan ini juga menimbulkan diskusi tentang dampak jangka panjang terhadap industri teknologi dan profesi pemrograman.
Tantangan dan Kekhawatiran yang Muncul
Pengumuman tentang integrasi AI di Spotify muncul setelah perusahaan menaikkan harga langganan di Amerika Serikat dari USD 11,99 menjadi USD 12,99. Pihak Spotify mengklaim kenaikan ini diperlukan untuk menjaga kualitas layanan.
Kombinasi antara kenaikan harga dan penggunaan AI dalam pengembangan aplikasi memunculkan kekhawatiran baru. Salah satu isu yang muncul berkaitan dengan dampak AI terhadap pekerjaan programmer di masa depan.
Mustafa Suleyman, kepala AI Microsoft, juga memberikan peringatan bahwa AI dapat menggantikan sebagian besar pekerjaan kantoran dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Ini menunjukkan bahwa pasar kerja akan mengalami perubahan signifikan.
Langkah Spotify ini menjadi bahan perbincangan di kalangan profesional dan akademisi tentang masa depan pekerjaan di industri teknologi.
Baca juga: Direktur Lokataru Foundation Ditangkap Terkait Dugaan Penghasutan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: