Dampak Kenaikan Harga RAM terhadap Pasar Laptop dan PC di Indonesia
Kenaikan harga RAM yang signifikan telah memicu kekhawatiran di kalangan konsumen Indonesia yang ingin membeli laptop atau merakit PC baru.
Baca juga: Pemecatan Kompol Cosmas Kaju Gae setelah Kematian Pengemudi Ojek Online
Produsen laptop seperti Lenovo, HP, dan Dell telah merencanakan penyesuaian harga yang dapat membuat konsumen membayar lebih mahal untuk perangkat mereka.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga RAM mengalami lonjakan drastis yang menyebabkan penurunan minat konsumen untuk membeli perangkat baru. Berdasarkan laporan terbaru, lebih dari 50% penjualan motherboard PC mengalami penurunan signifikan terkait isu ini.
Pabrikan seperti Lenovo telah mengeluarkan pemberitahuan kepada toko ritel mengenai kemungkinan kenaikan harga perangkat pada awal tahun depan. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen mungkin harus bersiap-siap membayar lebih untuk perangkat baru.
Tren ini dipicu oleh meningkatnya permintaan akan RAM yang besar untuk mendukung kemampuan AI pada perangkat. Saat ini, laptop yang khusus dirancang untuk aplikasi AI membutuhkan setidaknya 16GB RAM untuk performa optimal.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Langkah Menuju Transparansi
Menangani krisis ini, CEO HP Enrique Lores menyatakan bahwa RAM menyumbang sekitar 15-20% dari total biaya perangkat PC. Tantangan ini mengharuskan produsen menjaga kepuasan pelanggan sembari menghadapi kenaikan biaya material.
Sumber dari TrendForce mengungkapkan bahwa Dell berencana menaikkan harga perangkatnya sekitar 15-20% pada pertengahan Desember. Hal ini menyoroti dampak nyata dari ketidakstabilan harga komponen.
"Sama seperti perusahaan lain di industri ini, Dell mengambil kebijakan penetapan harga yang terarah, bila diperlukan, dengan tetap menjaga keberlanjutan pasokan dan komitmennya terhadap pelanggan," ujar juru bicara Dell.
Kenaikan harga RAM juga berasal dari kelangkaan komponen semikonduktor, khususnya DRAM dan NAND yang digunakan untuk penyimpanan flash. Raksasa semikonduktor seperti Samsung dan SK Hynix saat ini lebih memprioritaskan produksi high bandwidth memory (HBM) untuk pusat data AI.
Perubahan fokus produksi ini didorong oleh profitabilitas tinggi dari memori yang digunakan untuk aplikasi AI, yang menyebabkan produsen meninggalkan produk konsumen. Micron, salah satu produsen memori terbesar, bahkan menghentikan penjualan RAM melalui merek Crucial untuk memfokuskan pasokan pada pusat data.
Situasi ini menunjukkan bahwa permintaan pasar untuk teknologi AI berdampak langsung pada ketersediaan perangkat untuk konsumen umum.
Baca juga: Penembakan Staf KBRI di Lima, Peru: Zetro Leonardo Purba Meninggal Dunia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: