Rasa gurih menjadi salah satu pengalaman kuliner yang sulit dilupakan banyak orang. Penelitian menunjukkan bahwa ada faktor neurobiologis di balik daya tarik rasa gurih yang lebih kuat dibandingkan dengan rasa manis.
Baca juga: Kemenperin Belum Menerima Izin Penjualan iPhone 17 di Indonesia
Kedua rasa tersebut diproses secara berbeda dalam otak manusia, sehingga gurih sering kali membangkitkan respons yang lebih mendalam. Hal ini menyebabkan kenangan tentang rasa gurih lebih mudah diingat dan kembali teringat seiring waktu.
Neurobiologi Rasa
Setiap rasa yang kita cicipi diproses oleh sistem saraf dan otak kita. Penelitian menunjukkan bahwa rasa gurih, yang berkaitan dengan adanya asam amino dan protein, dapat membangkitkan respons yang lebih kuat dalam aktivitas otak dibandingkan rasa manis.
Salah satu senyawa penting yang terlibat adalah umami, dikenal sebagai rasa gurih yang muncul dari asam glutamat. Senyawa ini sangat berperan dalam memberikan kedalaman rasa dan sering ditemukan dalam makanan seperti daging dan kaldu.
Sistem dopamin di otak juga berperan dalam penguatan ingatan kita terhadap rasa. Ketika kita merasakan rasa gurih, otak kita merespons dengan lebih intens, membuat rasa itu lebih mudah diingat dalam jangka waktu yang lama.
Pengalaman Kuliner dan Hubungan Emosional
Makanan sering kali berhubungan dengan kenangan emosional, dan rasa gurih banyak ditemukan dalam hidangan yang dikaitkan dengan momen spesial. Misalnya, masakan rumahan atau makanan yang dimasak oleh orang tercinta biasanya memiliki rasa gurih yang mendalam, meninggalkan jejak emosional yang kuat.
Ketika kita merasakan rasa gurih, sering kali ada elemen nostalgia di dalamnya. Hal ini membuat kenangan akan makanan gurih cenderung bertahan lebih lama dibandingkan makanan manis yang mungkin hanya diingat sebagai camilan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa ketika kita berbagi makanan gurih dalam konteks sosial, pengalaman tersebut menjadi lebih bermakna dan terkenang. Misalnya, makan bersama teman atau keluarga sambil menikmati hidangan gurih membawa pengalaman yang lebih mendalam.
Keterikatan dalam Pilihan Makanan
Orang cenderung memilih makanan gurih sebagai hidangan utama, sedangkan makanan manis sering dijadikan sebagai pencuci mulut. Pilihan ini menunjukkan bahwa kita secara alami lebih terikat pada rasa gurih dalam pola makan sehari-hari.
Bahkan dalam berbagai budaya, makanan gurih menjadi bagian utama dari meja makan. Misalnya, nasi goreng, rendang, atau soto, semuanya memiliki karakter gurih yang kuat dan dianggap sebagai hidangan khas yang tidak bisa dilupakan.
Selain itu, banyak restoran yang menekankan menu gurih dalam penawaran mereka. Ini menunjukkan permintaan yang tinggi untuk makanan dengan rasa gurih, menjadikannya bagian penting dari kebiasaan makan manusia.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi WFH untuk ASN, Sarankan Gunakan Transportasi Umum
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: