Industri otomotif Indonesia tengah berupaya mengembangkan baterai berbasis sodium sebagai solusi penyimpanan energi untuk kendaraan listrik. Langkah inovatif ini diambil untuk mencari alternatif yang lebih terjangkau di tengah tantangan keterbatasan pasokan lithium.
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA) menjadi salah satu pelopor dalam penelitian ini, di mana Eko Maryanto, Head of Business Development, menyatakan bahwa baterai sodium memiliki potensi besar menuju teknologi masa depan.
Potensi Baterai Sodium dalam Industri Otomotif
Baterai sodium dianggap memiliki potensi untuk menggantikan aki konvensional berbasis timbal. Eko Maryanto menjelaskan, 'Posisinya memang masih di bawah lithium, tapi lebih baik dibanding lead acid. Untuk aki, sebenarnya sodium ini yang paling cocok.'
Meskipun demikian, pengembangan baterai sodium tidak lepas dari sejumlah kendala. Eko menambahkan bahwa biaya pengembangan yang tinggi dan kesiapan teknologi menjadi faktor penghambat utama yang dihadapi industri.
Saat ini, penerimaan produk berbasis sodium di pasar masih terbatas, terutama karena kondisi pasar yang belum mendukung. 'Kalau melihat harga sekarang, memang belum bisa diterima,' ungkapnya.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Jadi Warga Negara Indonesia, Siap Perkuat Timnas
Tantangan dalam Pengembangan Baterai Sodium
Biaya tinggi dan tingkat energi yang lebih rendah menjadi kendala utama dalam pengembangan baterai sodium. Eko menjelaskan, 'Sekarang teknologinya masih mahal. Energinya juga lebih rendah dibanding LFP, tapi harganya justru masih lebih tinggi.'
Kondisi ini menyebabkan produk berbasis sodium sulit untuk diterima oleh masyarakat luas. Saat ini, teknologi lithium, khususnya lithium iron phosphate (LFP), masih mendominasi industri baterai nasional.
LFP telah memiliki rantai pasokan yang matang, sehingga menghambat penetrasi baterai sodium ke pasar. Seringkali, inovasi baru harus berhadapan dengan kekuatan produk yang telah ada.
Keunggulan Baterai Sodium
Baterai sodium-ion menjadi alternatif menarik di tengah tingginya harga dan terbatasnya pasokan lithium. Teknologi ini menggunakan natrium sebagai bahan baku, yang tersedia dengan jumlah yang lebih banyak dan tidak tergantung pada mineral langka.
Selain itu, laporan dari Gimozmochina mencatat bahwa baterai sodium-ion lebih stabil secara kimia dan memiliki risiko kebakaran yang lebih rendah. Ini menjadikan mereka pilihan yang lebih aman dibandingkan dengan beberapa teknologi lain.
Percobaan di lapangan menunjukkan hasil yang menjanjikan. Beberapa produsen, seperti CATL dari China, telah mulai menjelajahi penerapan teknologi ini untuk kendaraan penumpang.
Baca juga: Pihak Kampus dan Polda Jabar Bantah TNI-Polri Masuk Kampus Saat Kericuhan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: