Nyeri sendi sering menjadi permasalahan serius bagi banyak lansia di Indonesia, yang dapat menghambat kenyamanan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Hasil Imbang Memuaskan: Timnas Indonesia U-23 Gagal Menang Melawan Laos
Mengelola nyeri sendi dengan cara yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan lansia.
Penyebab Nyeri Sendi pada Lansia
Penyebab umum nyeri sendi pada lansia meliputi penyakit degeneratif seperti osteoartritis. Kondisi ini terjadi ketika kartilago yang melindungi sendi mulai menipis seiring bertambahnya usia.
Selain osteoartritis, rheumatoid arthritis juga kerap ditemukan sebagai penyebab nyeri sendi. Penyakit ini bisa memicu inflamasi pada sendi dan lebih banyak dialami oleh wanita, menyebabkan rasa kaku dan nyeri.
Cedera atau trauma pada sendi juga semakin umum seiring dengan penurunan kekuatan otot pada lansia. Hal ini dapat memperburuk nyeri setelah melakukan aktivitas fisik.
Baca juga: Penangkapan Direktur Eksekutif Lokataru Foundation di Tengah Demo Pelajar
Obat yang Dapat Digunakan
Berbagai jenis obat tersedia untuk meredakan nyeri sendi, salah satunya adalah obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen dan naproxen. Obat-obatan ini berfungsi mengurangi rasa sakit dan peradangan yang dialami.
Dalam situasi yang lebih serius, analgesik seperti paracetamol dapat dipertimbangkan setelah berkonsultasi dengan dokter. Dokter juga mungkin meresepkan opioids untuk kasus nyeri yang sangat akut.
Konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan sebelum mengonsumsi obat-obatan ini, terutama bagi lansia yang mungkin memiliki kondisi kesehatan lain.
Terapi Alternatif yang Disarankan
Terapi fisik menjadi salah satu metode yang banyak dianjurkan untuk membantu mengurangi nyeri sendi. Latihan fisik ringan dapat memperbaiki fleksibilitas dan kekuatan otot di sekitar sendi.
Beberapa lansia memilih terapi alternatif seperti akupunktur atau pijat untuk meredakan nyeri. Penelitian menunjukkan bahwa teknik ini bisa efektif untuk beberapa pasien.
Suplemen seperti glukosamin dan kondroitin juga semakin digemari di kalangan lansia. Meski efikasinya bervariasi, banyak yang melaporkan perbaikan setelah rutin mengonsumsinya.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: