Belakangan ini, banyak orang dewasa yang mengalami gejala pubertas emosional mirip remaja, memicu pertanyaan mengapa fenomena ini semakin sering terjadi.
Baca juga: Kasus Oknum Brimob Melindas Pengemudi Ojek Online, Jalur Pidana Terancam
Kondisi ini ditandai dengan pergeseran hormonal yang memengaruhi suasana hati, membuat banyak orang dewasa merasa emosi yang intens dan kemarahan yang tidak terduga.
Apa itu Pubertas Emosional?
Pubertas emosional adalah kondisi ketika seseorang mengalami pergeseran hormonal yang berdampak pada suasana hati dan emosi, mirip dengan perasaan remaja. Tanda-tanda dari kondisi ini meliputi perubahan sikap dan reaksi emosional yang lebih kuat.
Banyak orang mengira pubertas hanya terjadi di masa remaja, namun dalam beberapa tahun terakhir, laporan dari orang dewasa yang merasakan emosi yang intens semakin meningkat. Pertanyaan muncul: apakah ada perubahan dalam pola hidup kita yang memicu fenomena ini?
Penyebab Terjadinya Pubertas Emosional
Berbagai faktor dapat menjelaskan terjadinya pubertas emosional di usia dewasa. Stres akibat tuntutan hidup modern dan ekspektasi sosial yang tinggi menjadi pemicu utama yang dapat memperkuat respons emosional.
Baca juga: Pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam Kasus Kematian Pengemudi Ojek Online
Penelitian menunjukkan bahwa generasi saat ini lebih rentan terhadap masalah kesehatan mental ketimbang generasi sebelumnya. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental, orang dewasa kini lebih nyaman mengakui dan mendiskusikan emosi mereka, sehingga gejala pubertas emosional lebih terlihat.
"Orang dewasa kini lebih terbuka untuk mengekspresikan perasaan mereka, yang dapat menyebabkan respons emosional yang lebih intens," ujar seorang psikolog di Jakarta, menjelaskan fenomena ini.
Dampak Pubertas Emosional di Usia Dewasa
Dampak dari pubertas emosional bisa sangat luas, memengaruhi hubungan pribadi dan juga kinerja di tempat kerja. Individu yang mengalami kondisi ini seringkali mengalami kesulitan dalam menjaga hubungan yang stabil akibat fluktuasi emosi.
Masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi juga bisa muncul sebagai efek samping dari keadaan ini. Banyak yang merasa terjebak antara tuntutan sebagai orang dewasa dan kesulitan dalam menghadapi emosi yang tidak terduga.
"Kita tidak bisa mengabaikan bahwa perasaan emosional ini penting dan harus dikelola dengan baik," tambah psikolog tersebut, menekankan pentingnya dukungan emosional dalam mengatasi tantangan yang dihadapi.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Provokasi Massa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: