Santet adalah praktik budaya yang masih dipercayai di berbagai kalangan masyarakat Indonesia, memunculkan perdebatan terkait pandangan agama dan etika. Meskipun banyak yang menentangnya, santet kerap diangggap sebagai solusi dalam menyelesaikan konflik di masyarakat.
Baca juga: Gubernur DKI Jakarta Cabut Instruksi WFH untuk ASN, Sarankan Gunakan Transportasi Umum
Definisi dan Asal Usul Santet
Santet merupakan praktik mistis yang sering kali dikaitkan dengan pengiriman energi negatif untuk menyakiti orang lain. Asal-usulnya berakar dari tradisi dan kepercayaan yang telah ada di Indonesia sejak lama.
Penelitian mengungkap bahwa santet diakui sebagai bagian dari kearifan lokal demi mengatasi berbagai masalah pribadi. Namun, makna dan cara pandang terhadap santet dapat bervariasi tergantung pada budaya setiap daerah.
Pandangan Agama Terhadap Santet
Dalam banyak ajaran agama di Indonesia, seperti Islam, praktik santet dianggap tabu dan diharamkan. Pihak berwenang di lingkungan agama menyatakan bahwa santet adalah bentuk sihir yang bisa mengundang murka Tuhan.
Namun, terdapat pula interpretasi yang kompleks mengenai keberadaan sihir dalam teks-teks keagamaan. Beberapa pihak berargumen bahwa niat di balik tindakan tersebut menjadi faktor penentu apakah tindakan itu bisa diterima atau tidak.
Etika Masyarakat dan Respon Terhadap Santet
Reaksi masyarakat terhadap santet pun beragam, mulai dari penolakan keras hingga penerimaan sebagai bagian dari tradisi. Etika kolektif sering kali terdampak oleh norma budaya dan kesepakatan sosial di sekitar mereka.
Di beberapa komunitas, ada pemikiran bahwa santet bisa menjadi tindakan sah untuk melindungi diri dalam situasi konflik. Namun, hal tersebut menciptakan dilema etis, mendorong masyarakat untuk menilai kembali nilai-nilai moral yang mereka anut.
Baca juga: Menggali Peran Finfluencer dalam Meningkatkan Literasi Keuangan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: