Anemia defisiensi besi merupakan kondisi yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam tubuh. Zat besi sangat penting untuk memproduksi sel darah merah yang sehat dan mempengaruhi fungsi tubuh secara keseluruhan.
Baca juga: Penghentian Tunjangan Perumahan Anggota DPR: Langkah Menuju Transparansi
Gejala yang timbul dapat bervariasi, mulai dari kelelahan hingga kesulitan berkonsentrasi. Pengetahuan tentang anemia defisiensi besi menjadi penting untuk mencegah dampak yang lebih serius.
Apa Itu Anemia Defisiensi Besi?
Anemia defisiensi besi terjadi ketika tubuh tidak mendapatkan cukup zat besi dari makanan atau tidak dapat menyerapnya dengan baik. Zat besi sangat penting dalam pembentukan hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Dengan kekurangan zat besi, produksi sel darah merah terhambat, sehingga jumlah sel darah merah yang ada jauh lebih sedikit dari yang seharusnya. Akibatnya, tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen untuk berfungsi optimal, yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari.
Gejala Anemia Defisiensi Besi
Gejala anemia defisiensi besi cenderung muncul secara perlahan dan bisa bervariasi dari satu individu ke individu lainnya. Beberapa gejala umum termasuk kelelahan ekstrem, kulit pucat, dan sesak napas saat melakukan aktivitas ringan.
Penderita anemia defisiensi besi juga dapat merasakan detak jantung yang cepat atau tidak teratur. Selain itu, ada pula peningkatan keinginan untuk mengonsumsi benda non-makanan seperti tanah atau es, yang dikenal sebagai pica.
Siapa yang Rentan Terkena?
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami anemia defisiensi besi. Wanita hamil merupakan salah satu yang membutuhkan lebih banyak zat besi untuk mendukung perkembangan janin, sementara remaja yang sedang tumbuh juga memerlukan zat besi tambahan untuk pertumbuhan mereka.
Orang yang mengalami gangguan pencernaan yang menyebabkan kesulitan dalam menyerap zat besi juga lebih berisiko. Selain itu, diet yang rendah zat besi, terutama di kalangan vegetarian atau vegan yang tidak memantau asupan mereka dengan baik, dapat meningkatkan risiko terkena anemia ini.
Baca juga: Kericuhan di Bandung: Penembakan Gas Air Mata dan Provokasi Massa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: