Taylor Swift tengah menghadapi kritik tajam sehubungan dengan penggunaan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dalam promosi album terbarunya, 'The Life of a Showgirl'. Para penggemar merasa bahwa pendekatan promosi ini tidak hanya mengecewakan, tetapi juga mengabaikan nilai seniman sejati.
Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar
Dalam kampanye tersebut, Swift mengajak penggemarnya untuk berburu portal jingga di 12 kota di seluruh dunia sambil mengunggah video yang diduga dibuat oleh AI. Kejanggalan di dalam video tersebut, seperti gambar yang tidak konsisten, memicu reaksi negatif dari komunitas penggemar.
Awal Mula Kontroversi
Kontroversi bermula saat Taylor Swift meluncurkan kampanye promosi untuk album 'The Life of a Showgirl', yang melibatkan pencarian video-video pendek di media sosial. Dalam kampanye ini, Swift mengajak penggemar untuk mencari pintu jingga yang tersebar di berbagai kota, termasuk Nashville, London, dan Barcelona.
Penggemar, yang dikenal sebagai Swifties, diminta untuk memindai kode QR untuk mengakses video-video promosi. Namun, kegiatan yang dimaksudkan sebagai aktivitas menyenangkan berubah menjadi kekhawatiran ketika kualitas video tidak memenuhi harapan yang ada.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Tanggapan Penggemar dan Kritik
Banyak penggemar menyuarakan kekecewaannya di media sosial, menyatakan bahwa Taylor seharusnya menggunakan anggaran untuk menyewa seniman digital alih-alih mengandalkan AI. Beberapa video promosi telah menunjukkan kejanggalan khas teknologi AI, termasuk tangan yang tidak berada pada posisi semestinya dan objek yang menghilang.
Ben Colman, CEO Reality Defender, menyatakan bahwa tampak 'sangat mungkin' beberapa klip ini dihasilkan oleh AI. Ia menjelaskan bahwa kesalahan dalam teks dan tampilan yang tidak masuk akal pada video merupakan indikasi penggunaan teknologi tersebut.
Reaksi dan Pandangan Sejak Sebelumnya
Walaupun belum ada pernyataan resmi dari Taylor Swift terkait penggunaan AI dalam promosi album ini, ia sebelumnya pernah mengekspresikan penolakannya terhadap konten yang dihasilkan oleh AI. Tahun lalu, Swift menekankan potensi bahaya informasi yang menyesatkan yang dihasilkan melalui AI, terutama setelah rumor tentang dukungannya kepada Donald Trump.
Alyssa Yung, seorang penggemar lama Swift, menegaskan bahwa Swift seharusnya lebih bertanggung jawab terhadap karya yang dihasilkan. 'Taylor Swift telah menjadi advokat selama bertahun-tahun tentang kepemilikan karya seninya dan AI generatif menggunakan karya seni curian untuk membuat gambar atau videonya,' ujarnya.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: