BREAKING NEWS
|
KAMIS, 04/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Kamis, 26 FEBRUARI 2026 • 23:55 WIB

Mengapa Tradisi Bukber Bisa Menjadi Beban di Akhir Pekan

Mengapa Tradisi Bukber Bisa Menjadi Beban di Akhir PekanMengapa Tradisi Bukber Bisa Menjadi Beban di Akhir Pekan

Buka puasa bersama atau bukber telah menjadi kegiatan rutin di bulan Ramadan, terutama di akhir pekan. Namun, seringkali tradisi ini menjadi sumber kelelahan alih-alih kebahagiaan.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang

Fenomena ini, yang bisa kita sebut 'Sunday Bukber Syndrome', menunjukkan bagaimana padatnya jadwal bukber bisa menguras energi dan waktu kita.

Tekanan Sosial dan Harapan Tinggi

Tradisi bukber adalah waktu untuk berkumpul dengan keluarga dan teman. Namun, kini terdapat tekanan sosial yang membuat banyak orang merasa harus hadir di setiap undangan.

Ada harapan untuk tampil sempurna dari segi pakaian dan tempat, sehingga menciptakan kecemasan tersendiri. Hal ini mendorong individu untuk berlomba menghadiri banyak acara dalam satu waktu.

Perasaan tidak enak jika melewatkan undangan menambah beban, hingga orang-orang sering mengorbankan waktu berharga untuk diri sendiri.

Baca juga: Pertemuan Pimpinan DPR dengan Mahasiswa: Suara dan Tuntutan yang Harus Didengar

Jadwal Bukber yang Padat

Di akhir pekan, satu orang bisa menerima lebih dari satu undangan untuk berbuka puasa. Tanpa perencanaan yang baik, waktu berpindah antara lokasi menjadi sangat terbatas.

Kepadatan agenda membuat seseorang tidak memiliki kesempatan untuk menikmati makanan atau ngobrol dengan teman. Akibatnya, kelelahan fisik dan mental menjadi hal yang biasa.

Ketika makanan yang biasanya dinikmati menjadi beban karena harus dimakan terburu-buru, seluruh pengalaman bukber bisa terasa tidak memuaskan.

Dampak Psikologis dari Kelelahan

Setelah menerima banyak undangan dan rasa wajib untuk hadir, banyak yang mengalami keletihan yang bersifat fisik maupun emosional. Momen berkumpul yang seharusnya menyenangkan malah menjadi sumber tekanan.

Perasaan cemas tentang bagaimana menghadapi bukber berikutnya bisa mengganggu suasana hati. Hal ini membuat bulan Ramadan terasa tidak seindah yang diharapkan.

Siklus tersebut berpotensi menghalangi kesempatan untuk menikmati waktu berkumpul yang berkualitas, terjebak dalam rutinitas dan harapan yang terlalu tinggi.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Mengapa Tradisi Bukber Bisa Menjadi Beban di Akhir Pekan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!