Kamis, 05 FEBRUARI 2026 • 13:05 WIB

Mengapa Menghargai Perasaan Anak Itu Penting untuk Perkembangan Mereka

Author

Mengapa Menghargai Perasaan Anak Itu Penting untuk Perkembangan Mereka

Menghargai perasaan anak adalah hal vital dalam mendukung perkembangan psikologis mereka. Dengan merasa didengar, anak-anak dapat lebih baik dalam mengelola emosinya dan bersosialisasi dengan lingkungan di sekitar mereka.

Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang

Sayangnya, tidak jarang orang tua meremehkan perasaan anak, yang berdampak negatif pada pertumbuhan mereka. Mengatakan bahwa perasaan anak itu valid adalah langkah awal yang penting dalam proses ini.

Apa itu Validasi Perasaan?

Validasi perasaan adalah pengakuan dan penerimaan emosi yang dirasakan seseorang, tanpa adanya penilaian. Dalam konteks anak, ini memberi mereka rasa aman untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan.

Contoh sederhana mungkin ketika seorang anak merasa sedih, di mana orang tua dapat merespons, "Saya mengerti kamu merasa sedih sekarang, itu normal. Ayo, kita bicarakan lebih lanjut tentang apa yang membuatmu merasa seperti itu."

Dengan pendekatan ini, anak merasa didengar dan tidak harus menahan perasaan mereka. Validasi seperti ini sangat penting untuk membantu anak memahami emosi, baik diri mereka sendiri maupun orang lain.

Baca juga: BEM SI Kerakyatan Batalkan Rencana Demo Karena Kondisi Jakarta Tak Kondusif

Dampak Positif Validasi Perasaan

Ketika anak melihat bahwa perasaannya diakui, mereka biasanya mengalami perkembangan yang positif. Mereka menjadi lebih terbuka dalam berkomunikasi mengenai apa yang mereka rasakan, yang penting untuk interaksi sosial.

Studi menunjukkan bahawa anak yang mendapatkan dukungan emosional dari orang tua cenderung memiliki tingkat percaya diri yang lebih baik. Hal ini berfungsi untuk membangun keterampilan kecerdasan emosional yang sangat berharga di kemudian hari.

Sebaliknya, jika perasaan anak diabaikan terus-menerus, mereka mungkin menghadapi masalah seperti kecemasan dan depresi. Ini merupakan dampak jangka panjang yang dapat muncul akibat kurangnya validasi di masa awal kehidupan.

Strategi untuk Memvalidasi Perasaan Anak

Orang tua sebaiknya memulai dengan mendengarkan secara aktif ketika anak berbagi cerita. Mengajukan pertanyaan terbuka seperti, "Apa yang kamu rasakan ketika itu terjadi?" dapat memicu anak untuk berbagi lebih banyak.

Mengatakan kalimat yang menunjukkan pemahaman, misalnya, "Kamu pasti merasa kesal karena mainanmu rusak," bisa memberikan anak perasaan bahwa emosinya diperhatikan dengan serius.

Penting juga untuk memberikan waktu bagi anak dalam mengekspresikan perasaannya tanpa terburu-buru. Di sisi lain, orang tua perlu menunjukkan cara berespon terhadap emosi dengan memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Bombastis Menjelang Penutupan Bursa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

Author
TERPOPULER
BERITA TERBARU