Belanja online semakin menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat, namun banyak yang terjebak dalam pembelian tak terencana. Fenomena ini menciptakan masalah baru, terutama dalam pengelolaan keuangan.
Baca juga: Novak Djokovic Kembali Melaju ke Semifinal US Open 2025
Dari diskon menarik hingga iklan yang menggoda, hal-hal ini sering kali memicu keputusan berbelanja yang impulsif. Mari kita lihat lebih dalam kenapa ini bisa terjadi.
Pengaruh Iklan dan Diskon
Iklan yang terus-menerus muncul di media sosial memiliki dampak besar terhadap keputusan belanja. Banyak orang merasa tertekan untuk membeli produk hanya karena melihatnya berulang kali.
Diskon yang terlihat besar juga menjadi daya tarik tersendiri. Sering kali, orang membeli barang hanya karena diskon, padahal mereka tidak membutuhkannya sama sekali.
Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing
Faktor Emosional
Belanja online sering kali dikaitkan dengan suasana hati. Ketika seseorang merasa stres atau bingung, belanja online bisa menjadi pelarian yang dianggap menyenangkan.
Namun, sebagian besar orang tidak menyadari bahwa perasaan ini justru membawa mereka ke dalam siklus pengeluaran yang tidak sehat. Ketika belanja menjadi pelarian, kontrol diri bisa hilang.
Kemudahan dan Aksesibilitas
Kini, berbelanja online semakin mudah dengan aplikasi yang dapat diakses kapan saja. Hal ini membuat impuls belanja semakin sulit untuk dikendalikan.
Proses checkout yang simpel tentu saja hanya memperkuat kebiasaan belanja impulsif, apalagi dengan fitur satu-klik pembelian. Tanpa terasa, saldo di rekening bisa berkurang drastis.
Baca juga: Keamanan dan Kelezatan Lari Malam: Panduan untuk Olahragawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: