Rasa iri sering berkembang menjadi emosi yang lebih gelap, seperti dendam, yang dapat berdampak negatif bagi individu dan orang lain di sekitarnya.
Baca juga: Miliano Jonathans Resmi Menjadi Warga Negara Indonesia
Dalam konteks budaya Indonesia, praktik seperti santet muncul sebagai salah satu cara untuk mengekspresikan rasa dendam ini, yang menarik untuk dikaji dari sudut pandang psikologis.
Rasa Iri dan Proses Psikologis di Baliknya
Iri hati adalah emosi umum yang muncul saat seseorang merasa kurang dibandingkan orang lain. Rasa iri bisa menjadi motivasi untuk melanjutkan hidup, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, dapat menimbulkan dendam.
Dalam psikologi, rasa iri sering dikaitkan dengan rendahnya rasa percaya diri dan perasaan kecewa. Ini menunjukkan bahwa individu yang merasa terancam oleh keberhasilan orang lain lebih rentan terhadap emosi negatif.
Mengabaikan rasa iri dapat memicu reaksi fisiologis yang berujung pada perilaku agresif. Proses ini merupakan bagian dari mekanisme pertahanan yang muncul saat seseorang merasa terancam dan tidak berdaya.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas 2025: Liverpool Pecahkan Rekor dengan Transfer Alexander Isak
Dendam Sebagai Ekspresi Emosi Negatif
Dendam, yang merupakan kelanjutan dari rasa iri, membawa individu ke dalam ranah psikologi yang lebih gelap. Pada saat seseorang memilih untuk mengekspresikan dendam, ada keinginan lebih untuk melihat orang lain menderita.
Fenomena ini dapat terlihat di berbagai lingkungan sosial dan budaya. Praktik santet, misalnya, merupakan salah satu cara untuk mengekspresikan dendam yang berakar pada kepercayaan dan tradisi lokal.
Beberapa psikolog mengamati bahwa tindakan merugikan orang lain lebih terkait dengan rasa ketidakberdayaan daripada kekuatan. Individu yang merasa iri sering mencari pengakuan dengan cara yang merusak.
Praktik Santet dan Implikasinya dalam Masyarakat
Di Indonesia, santet menjadi salah satu cara yang dianggap efektif untuk mengekspresikan dendam, dipersepsikan sebagai pengiriman energi negatif yang dapat menyakiti orang secara fisik dan mental.
Namun, dampak psikologis dari praktik ini tidak bisa dianggap sepele. Ketakutan akan santet dapat menyebabkan kecemasan dan paranoia di kalangan individu, yang selanjutnya berdampak pada hubungan sosial.
Psikologi positif mendorong individu untuk menemukan cara lain dalam mengatasi rasa iri dan dendam. Melalui refleksi diri dan peningkatan rasa syukur, individu bisa menemukan alternatif lebih sehat daripada berpegang pada praktik negatif.
Baca juga: Kunto Aji Soroti Tanggung Jawab Anggota DPR dan Keresahan Sosial
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: