Toxic positivity atau positifitas beracun menjadi isu yang semakin banyak diperbincangkan di masyarakat saat ini. Meskipun sering bertujuan baik, sikap ini dapat menambah beban emosional bagi banyak orang.
Baca juga: Kunjungan Singkat Prabowo Subianto ke China dalam Perayaan 80 Tahun Kemenangan Perang
Di balik senyuman dan dorongan untuk berpikir positif, ada realita yang sering kali diabaikan. Ini menjadi serpihan penting yang perlu kita sadari dalam interaksi sosial sehari-hari.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity merupakan konsep yang mendikte individu untuk selalu berpikir positif meski dalam keadaan sulit. Hal ini sering terlihat dalam ungkapan-ungkapan seperti, 'Cobalah untuk bahagia!' atau 'Semua akan baik-baik saja!' yang muncul ketika seseorang sedang berduka.
Menariknya, sikap ini bukan hanya sekedar kebiasaan sosial, tetapi dapat membawa dampak serius pada kesehatan mental seseorang. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa penumpukan emosi negatif tanpa ruang untuk diekspresikan dapat memperparah masalah kesehatan mental.
Akibatnya, alih-alih mendukung, ungkapan positif ini dapat menimbulkan rasa bersalah pada individu yang sebenarnya sedang merasakan kesedihan atau ketidakberdayaan.
Baca juga: Calvin Verdonk Dekat Bergabung dengan Lille, Klub Bintang Prancis
Dampak Negatif dari Toxic Positivity
Individu yang terjebak dalam pola toxic positivity cenderung menekan emosi negatif mereka. Hal ini bisa memicu masalah yang lebih serius seperti kecemasan dan depresi yang berkepanjangan.
Psikolog Jenna D. Hwang menyatakan, 'Rasa tidak berdaya yang dihasilkan dari tekanan positif ini bisa sangat merusak bagi kesehatan mental seseorang.' Lingkungan yang dipenuhi sikap ini dapat menciptakan ketidaknyamanan bagi individu yang ingin mengekspresikan kerentanan mereka.
Pada tingkat hubungan interpersonal, dampak toxic positivity bisa sangat signifikan. Ketidakmampuan untuk mengekspresikan diri secara autentik dapat menghambat rasa saling memahami dan empati di antara individu.
Bagaimana Menghadapi Toxic Positivity?
Salah satu cara paling efektif untuk menghadapi toxic positivity adalah dengan memberi ruang bagi perasaan negatif. Mengizinkan diri untuk merasa sedih atau marah adalah langkah awal menuju penyembuhan.
Berbicara dengan seseorang yang dapat mendengarkan tanpa memberi penilaian juga sangat membantu. Kadang-kadang, pengalaman buruk perlu dibagikan untuk meringankan beban yang kita rasakan.
Yang terpenting, kita perlu menyadari bahwa tidak apa-apa untuk tidak merasa baik-baik saja. Perasaan kita adalah valid, dan penting untuk mengambil waktu sejenak ketika kita merasa tertekan.
Baca juga: Bursa Transfer Musim Panas: Manchester United dan Manchester City Cari Kiper Baru
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: