BREAKING NEWS
|
JUMAT, 05/06/2026
|
FOLLOW US:
Kategori Berita
Minggu, 22 FEBRUARI 2026 • 20:50 WIB

Menghadapi Ketakutan akan Ketinggalan di Era Media Sosial

Menghadapi Ketakutan akan Ketinggalan di Era Media SosialMenghadapi Ketakutan akan Ketinggalan di Era Media Sosial

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) semakin melanda masyarakat di tengah pesatnya perkembangan media sosial. Banyak individu merasakan tekanan yang muncul saat melihat aktivitas seru orang lain di dunia digital.

Baca juga: Desta Ikut Dukung ‘Tuntutan 17+8’ untuk Keadilan dan Aspirasi Masyarakat

Dampak FOMO terhadap kesehatan mental tampak jelas, menciptakan rasa cemas dan ketidakpuasan yang berkelanjutan. Artikel ini akan mengupas lebih dalam tentang bagaimana FOMO memengaruhi kesehatan mental, terutama pada generasi muda di Indonesia.

Definisi dan Mekanisme FOMO

FOMO adalah perasaan cemas yang muncul saat seseorang merasa ketinggalan dari pengalaman menyenangkan yang terlihat di media sosial. Istilah ini mulai dikenal pada awal 2000-an dan semakin populer sejalan dengan maraknya platform digital.

Ciri-ciri FOMO meliputi keinginan tak terputus untuk memeriksa media sosial, perasaan terasing, dan kecemasan saat tidak terlibat dalam aktifitas sosial. Rasa itu dapat memengaruhi penilaian diri dan interaksi sosial individu.

Menurut Dr. Andi Setiawan, seorang psikolog di Jakarta, 'Media sosial dapat menjadi sumber utama stres bagi banyak pengguna.' Ini menandakan bahwa eksposur berlebihan terhadap konten media sosial dapat memperburuk perasaan cemas.

Baca juga: Google Tanggapi Masalah Keamanan Gmail Terkait Phishing

Konsekuensi Negatif FOMO

Salah satu dampak signifikan dari FOMO adalah peningkatan kecemasan. Individu yang mengalami FOMO menunjukkan rasa tidak cukup baik dan kurang berharga dibandingkan dengan mereka yang aktif di media sosial.

FOMO juga berkontribusi terhadap masalah tidur, sebab individu merasa harus terus memeriksa ponsel mereka. Hal ini berisiko memengaruhi kesehatan fisik dan mental secara keseluruhan.

Berdasarkan beberapa penelitian, individu yang lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi. Menurut Dr. Siti Rahayu, seorang psikiater, 'Kombinasi dari ekspektasi sosial yang tinggi dan tekanan dari lingkungan digital dapat sangat merusak.'

Cara Mengatasi FOMO

Untuk mengatasi FOMO, penting untuk menemukan keseimbangan antara penggunaan media sosial dan aktivitas di dunia nyata. Menghabiskan waktu berkualitas dengan teman atau berolahraga dapat meredakan kecemasan yang ditimbulkan.

Banyak ahli merekomendasikan detox digital, yaitu mengurangi penggunaan media sosial selama periode tertentu. Ini memberi individu ruang untuk menikmati kegiatan tanpa beban tekanan.

Menggunakan media sosial dengan bijak juga sangat dianjurkan. Penting untuk memfilter konten yang dilihat dan ingat bahwa tidak semua yang tampak indah di media sosial mencerminkan kenyataan.

Baca juga: Alexander Isak Resmi Bergabung dengan Liverpool: Transfer Bombastis Menjelang Penutupan Bursa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

BERITA TERBARU

Menghadapi Ketakutan akan Ketinggalan di Era Media Sosial

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!